Selasa, 08 Juli 2008
proposal
A. Latar Belakang MasalahMultimedia dapat mempunyai sekurang-kurangnya dua pengertian, yaitu (1) Gabungan dari berbagai media (bahan cetak/teks, audio, video, slide, siaran radio, siaran televisi) yang masing-masing berdiri sendiri namun terprogram (various media). Multimedia ini lebih cocok dimanfaatkan untuk pendidikan yang bersifat massal. Penerapan multimedia dalam pengertian ini membutuhkan investasi yang besar pada sisi penyedia program pendidikan, tetapi hanya membutuhkan investasi yang relatif kecil pada sisi penerima; (2) Berbagai media yang terpadu (integrated multimedia) yang biasa dikaitkan dengan komputer multimedia. Multimedia ini lebih cocok untuk program pendidikan yang sifatnya individual/terbatas. Penerapan multimedia ini menuntut investasi yang besar di sisi penyedia program pendidikan dan pada sisi penerima program pendidikan harus ada peralatan yang menunjang. Dengan demikian multimedia yang diharapkan untuk berkontribusi pada PUS adalah multimedia dalam pengertian various media yang mempunyai sifat massal dan investasi rendah sehingga menjangkau masyarakat yang seharusnya menjadi target program PUS.Multimedia sangat potensial untuk meningkatkan mutu proses belajar-mengajar, yang akhirnya diharapkan meningkatkan hasil belajar siswa. Tidak saja bisa memperjelas sajian, tetapi juga lebih menghemat waktu belajar, lebih luwes, membuat apa yang dipelajari lebih tahan lama di ingatan, dan mampu memberikan “pengalaman lapangan” yang sulit dilakukan tanpa media tersebut. Pemanfaatan multimedia dalam proses pembelajaran telah membawa akibat munculnya alternatif pola pembelajaran baru yaitu: kurikulum - bahan belajar - siswa. Proses pembelajaran bisa berlangsung baik secara klasikal dalam kelompok besar, sedang, kecil maupun secara individual dan mandiri. Paket multimedia biasanya digunakan dalam belajar individual, mandiri, namun kadang-kadang digunakan pula dalam kelas di bawah bimbingan guru/dosen/instruktur. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila konsep multimedia sangat erat kaitannya dengan sistem pendidikan jarak jauh atau pendidikan terbuka yang mengharuskan siswa belajar secara mandiri. Konsep multimedia lebih dekat ke pembelajaran yang berorientasi pada siswa (students centered oriented) bukan pendekatan yang berpusat pada guru (teachers oriented). Apapun juga konteks penggunaan paket multimedia pasti memiliki kadar interaksi yang tinggi antara siswa dengan bahan belajar.Perkembangan teknologi multi media semakin canggih, tidak hanya melalui siaran televisi atau surat kabar tetapi juga melalui internet berbagai macam kejadian di setiap tempat dapat kita ikuti beritanya. Hal ini terjadi karena kebijakan politik pemerintah sangat mendukung perluasan pemanfaatan media elektronika bagi dunia khususnya televisi kita. Telah dapat diperkirakan bahwa lambat laun tidak terdapat batasan-batasan wilayah dalam komunikasi informasi. Oleh karena itu, disadari bahwa arus informasi yang datang dari luar akan sulit dibendung, dan hal ini tentu akan mempunyai pengaruh terhadap nilai-nilai budaya dunia pendidikan kita. Melalui internet pula berbagai layanan sistem manajemen modern telah digunakan secara meluas untuk bidang keuangan dan perbankan, kesehatan, transaksi bisnis, bahkan pertahanan keamanan. Kesemuanya itu menunjukkan tanda-tanda bahwa sedang terjadi perubahan yang radikal yang menyangkut media. Artinya peran manusia sebagai subyek pelaku, mulai tergantikan oleh alat-alat yang dipercaya lebih efektif dan efisien, baik dari segi waktu maupun jarak (telepon, e-mail, internet).Televisi dan teknologi video barangkali menjadi contoh konkrit dan sederhana untuk menjelaskan berbagai fenomena itu. Persoalan informasi dan jarak peristiwa telah dijawab oleh televisi dengan hadirnya perangkat itu di ruang-ruang keluarga, di ruang-ruang pribadi di mana pun.Dunia pendidikan mendapatkan tantangan baru dan serius, akan tetapi dunia pendidikan harus dengan cerdas mengantisipasi dan memanfaatkan teknologi multimedia untuk kepentingan mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Untuk itu, pemanfaatan multi media bagi pendidikan untuk semua merupakan satu keharusan. Memorandum pandangan ini membahas bagaimana menyikapi pemanfaatan multi media untuk pendidikan masa depan dan bagaimana multi media tersebut ditempatkan dalam proses pembelajaran.Teknologi adalah sebuah realitas. Deretan fakta dan peristiwa itu menunjukkan bahwa dunia pendidikan mendapatkan tantangan baru yang serius. Dunia pendidikan harus dengan cerdas mengantisipasi dan memanfaatkan teknologi multimedia untuk kepentingan mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kebiasaan “menonton yang cenderung konsumtif”, harus diupayakan menjadi “menonton dengan kritis”. Untuk itu, pemanfaatan multimedia bagi pendidikan untuk semua merupakan satu keharusan. Memorandum pandangan ini membahas bagaimana menyikapi pemanfaatan multimedia untuk pendidikan masa depan dan bagaimana multimedia tersebut ditempatkan dalam proses pembelajaran.B. Identifikasi MasalahBerdasarkan latar belakang diatas, identifikasi masalah dalam penelitian ini,guru dan siswa harus bekerja sama dalam memaksimal kegiatan belajar secara efektif dan efisien, sehingga kekreatifitasan siswa dapat terwujud dengan sempurna. Kegiatan belajar ini harus ditingkatkan dengan multimedia yang ada dan modern pada saat ini.C. Batasan MasalahBatasan masalah dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan teknologi multimedia untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar siswa di sekolah menengah. Materi yang diajarkan adalah pada teknologi multimedia di sekolah menengah terhadap peningkatan mutu guru dalam KBM .D. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Apakah dengan pemanfaatan teknologi multimedia dapat meningkatkan kemampuan siswa SMA N 5 Semarang dalam menguasai teknologi multimedia sekarang?2. Apakah Pemanfaatan multimedia dalam proses pendidikan berpotensi menjangkau seluruh lapisan masyarakat di berbagai tempat dengan mutu yang sama.3. Bagaimanakah dampak pemanfaatan teknologi multimedia dalam meningkatkan kemampuan siswa SMA N 5 Semarang untuk menguasai teknologi multimedia sekarang?4. Adakah kecemburuan profesi pada para guru/instruktur SMA N 5 Semarang dengan masuknya teknologi multimedia di sekolah/kelas. E. Tujuan Penelitian Dan Manfaat PenelitianPenggunaan teknologi multimedia bagi pendidikan untuk semua hendaknya dimaksudkan untuk lebih mendorong keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Dalam mengantisipasi era kompetisi dalam globalisasi dunia maka masyarakat Indonesia harus disiapkan untuk memasuki dunia multimedia dalam bentuk masyarakat informasi Indonesia yang tahan menghadapi kompetisi global.Untuk memberi arah yang jelas tentang maksud dari penelitian ini dan berdasar pada rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: :1. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa SMA N 5 Semarang dalam menggunakan teknologi multimedia dalam mengasah keterampilan siswa di sekolah.2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa apakah dengan teknologi multimedia prestasi siswa SMA N 5 Semarang disekolah dapat meningkat.3. Untuk mengetahui dampak metode teknologi multimedia dalam meningkatkan kreatifitas siswa SMA N 5 Semarang dalam belajar.Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikuta) Manfaat teoritisDilihat secara teoritis, hasil penelitian ini diharapakn dapat membantu dalam memanfaatkan multimedia dan sebagai masukan atau suatu pemikiran dalam bidang pendidikan.b) Manfaat Praktis1. Bagi Siswa a. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan multimedia yang ada.b. Memiliki rasa ingin tahu terhadap perkembangan teknologi.c. Memotivasi siswa untuk lebih mantap dalam belajar multimedia.e. Siswa dapat mengasah kemampuan dan mampu berkreatifitas sendiri.2. Bagi Guru a. Mendorong untuk peningkatan profesionalisme guru.b. Menumbuhkan wawasan berfikir dalam mengajar.d. Meningkatkan kualitas pembelajaran.3. Bagi Sekolaha. Hasil pembelajaran dikelas sebagai umpan balik untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran.b. Meningkatkan kualitas atau mutu sekolah melalui peningkatan prestasi siswa dan kinerja guru.F. LANDASAN TEORIPanduan untuk mengetahui multimedia harus dimulai dengan definisi atau pengertian multimedia. Dalam industri elektronika, multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video (Rosch, 1996) atau multimedia secara umum merupakan kombinasi tiga elemen yaitu, suara, gambar dan teks (Mc Cormick, 1996) atau multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data, media ini dapat berupa audio (suara,musik), animasi, video, teks, grafik dan gambar (Turban dkk, 2002) atau multimedia merupakan alat yang menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio dan gambar video (Robin dan Linda, 2001). Definisi lain dari multimedia yaitu dengan menempatkannya dalam konteks, seperti yang dilakukan oleh Hoftsteter (2001), multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, video dan animasi dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakai melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi. Dalam definisi ini terkandung empat komponen penting multimedia :1. harus ada komputer yang mengkoordinasi apa yang dilihat dan didengar yang berinteraksi dengan kita. 2. harus ada link yang menghubungkan kita dengan informasi. 3. harus ada alat navigasi yang memandu kita, menjelajah jaringan informasi yang saling terhubung. 4. multimedia menyediakan tempat kepada kita untuk mengumpulkan, memproses dan mengkomunikasikan informasi dan ide kita sendiri. Jika salah satu komponen tidak ada, maka bukan multimedia dalam arti luas namanya. Dari definisi diatas, maka multimedia ada yang online (internet) dan multimedia yang offline (tradisional). Unsur-unsur Multimedia. Unsur – unsur pendukung dalam multimedia antara lain :1. Teks. Bentuk data multimedia yang paling mudah disimpan dan dikendalikan adalah teks. Teks merupakan yang paling dekat dengan kita dan yang paling banyak kita lihat. Teks dapat membentuk kata, surat atau narasi dalam multimedia yang menyajikan bahasa kita. Kebutuhan teks tergantung pada kegunaan aplikasi multimedia. Secara umum ada empat macam teks yaitu teks cetak, teks hasil scan, teks elektronis dan hyperteks.2. Grafik. Alasan untuk menggunakan gambar dalam presentasi atau publikasi multimedia adalah karena lebih menarik perhatian dan dapat mengurangi kebosanan dibandingkan dengan teks. Gambar dapat meringkas dan menyajikan data kompleks dengan cara yang baru dan lebih berguna. Multimedia membatu kita melakukan hal ini, yakni ketika gambar grafis menjadi objek suatu link. Secara umum ada lima macam gambar atau grafik yaitu gambar vektor (vector image), gambar bitmap (bitmap image), clip art, digitized picture dan hyperpicture.3. Bunyi atau Sound. Bunyi atau sound dalam komputer multimedia, khusunya pada aplikasi bidang bisnis dan game sangat bermanfaat. Komputer multimedia tanpa bunyi hanya disebut unimedia, bukan multimedia. Bunyi atau sound dapat kita tambahkan dalam produksi multimedia melalui suara, musik dan efek-efek suara. Beberapa jenis objek bunyi yang biasa digunakan dalam produksi multimedia yakni format waveform audio, compact disk audio, MIDI sound track dan mp3.4. Video.Video adalah rekaman gambar hidup atau gambar bergerak yang saling berurutan. Terdapat dua macam video yaitu video analog dan video digital. Video analog dibentuk dari deretan sinyal elektrik (gelombang analog) yang direkam oleh kamera dan dipancarluaskan melalui gelombang udara. Sedangkan video digital dibentuk dari sederetan sinyal digital yang berbentuk yang menggambarkan titik sebagai rangkaian nilai minimum atau maksimum, nilai minimum berarti 0 dan nilai maksimum berarti. Terdapat tiga komponen utama yang membentuk video digital yaitu frame rate, frame size dan data type. 5. Animasi.Dalam multimedia, animasi merupakan penggunaan komputer.Kerangka BerfikirDengan adanya teknologi multimedia pendidikan ini, diharapkan kualitas dan kuntitas guru di SMA N 5 Semarang dalam KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar ) dapat meningkatkan potensi siswa untuk lebih bersemangat belajar lagi, dan juga teknologi multimedia pendidikan dapat memberikam informasi dan pengetahuan yang terbaru bagi Guru maupun siswa disekolah.Hipotesis PenelitianDengan belajar banyak mengenai teknologi multimedia pendidikan maka dapat meningkatkan kualitas dalm kegiatan belajar mengajar di kelas.G. Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian adalah korelasi yaitu suatu pendekatan yang bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variable berkaitan dengan variasi variable lain berdasarkan koefisiennya (Azwar, 2005:8). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode angket dan wawancara yang dilaksanakan di sekolah – sekolah khususnya di SMA N 5 Semarang dengan pokok bahasan teknologi multimedia pendidikan baik mester genap maupun smester ganjil.2. Waktu Dan Tempat PenelitianWaktu penelitian adalah tanggal 27 Juli – 27 Agustus 2008 Penelitian dilaksanakan di sekolah – sekolah, baik di SD, SMP, dan SMA. Khususnya di SMA N 5 Semarang3. Variabel PenelitianVariabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002: 96). Variabel merupakan salah satu komponen penting dalam suatu penelitian karena konsep-konsep dapat diteliti secara empiris jika mereka dioperasionalisasikan menjadi sebuah variabel, sehingga dapat diukur secara kuantitatif atau kualitatif. Definisi variable menurut Sutrisno Hadi dalam Arikunto (2006:116) yaitu gejala yang bervariasi. Dan dalam penelitian ini adalah :1. Variabel bebasMenurut Azwar (2005: 62) variable bebas yaitu satu variable yang variasinya mempengaruhi variabel lain. Variabel bebasnya adalah teknologi multimedia pendidikan.2. Variabel terantung Variable tergantung adalah variable penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek dan pengaruh variable lain (Azwar, 2005:62). Dan variable tergantungnya adalah kualitas guru dalam megajar.4. Populasi dan SampelPopulasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya (Sudjana, 1996: 6). Populasi penelitian ini seluruh guru SMA N 5 Semarang.Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Sudjana, 1996: 6). Sampel ditentukan dengan cara cluster random sampling. Sampel adalah di setiap SMA di ambil 2 guru.5. Metode Pengumpulan Data Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan pada waktu melaksanakan penelitian dalam upaya mencari dan mengumpulkan data penelitian Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti dalam hal ini menggunakan metode pengumpulan data, yaitu : a. Metode TestYang dimaksud dengan metode tes adalah suatu metode yang digunakan untuk mengetahui pengetahuan yang dimiliki seseorang dengan menggunakan soal – soal isian dengan batasan tertentu.Tes digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok dan sebagainya yang telah dipilih dengan sempurna dan standart tertentu. Metode tes yang digunakan pada ini adalah ulangan harian yang dilakukan pada akhir siklus guna memperoleh data yang diinginkanb. Metode Angket Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan mengajukan suatu daftar pertanyaan tertulis kepada sejumlah individu dan individu yang diberi daftar pertanyaan tersebut diminta untuk memberikan jawaban secara tertulis pula. Pada penelitian ini digunakan sejumlah angket langsung dan tertutup. Dikatakan angket langsung, karena individu yang diberi agket tersebut adalah orang yang diinginkan langsung datanya yaitu siswa. Dikatakan angket tertutup, karena pertanyaan – pertanyaan dalam angket sudah disediakan alternatif – alternatif jawaban dan siswa tinggal memilih salah satu jawaban tersebut. Pada penelitian ini metode angket digunakan untuk mengetahui pendapat siswa terhadap pelajaran matematika terutama pada pokok bahasan Logika Matematika. Sedang angket yang digunakan adalah angket langsung dan tertutupc. Metode ObservasiDidalam pengertian psikologi, observasi atau yang disebut dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi mengobservasi adalah pengamatan langsung melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Disini guru sebagai peneliti melakukan pengamatan terhadap segala fenomena yang muncul dalam setiap siklus. Kehadiran guru sebagai penelitidan kolaborator tidak diketahui obyek penelitian, karena observasi yang dilakukan adalah obserasi partisipasif dalam bentuk team teaching. Teknik observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi dengan menggunakan format yang sudah disiapkan sehingga kolaborator tinggal memberi tanda (check list) pada lembar observasi.6.Metode Analisis DataTeknik analisa data merupakan unsur yang sangat penting dalam setiap kali melakukan penelitian. Semua data yang telah terkumpul tidak akan berarti kalau tidak diadakan penganalisaan. Hasil dari penganalisaan akan memberikan gambaran, arah serta tujuan dan maksud penelitian. Penelitian ini menggunakan analisa statistik sederhana, yaitu dengan analisa diskriptif. Analisa diskriptif adalah model analisa dengan cara membandingkan rata-rata prosentasenya, kemudian kenaikan rata-rata pada setiap siklus. Data akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif prosentase, dengan tahapan :a. Sortir data/coding (diberi no.1-100).b. Tabulasi data-entry data.c. Pengolahan analisis data.d. Interpetasi hasil dan data.Daftar Pustaka- http://massofa.wordpress.com/2008/01/09/memanfaatkan-multimedia-bagi-pendidikan-untuk-semua/- Jamaluddin Harun & Dr. Zaidatun Tasir, Multimedia dalam Pendidikan, PTS Publications & Distributors Sdn Bhd, ISBN: 983-192-961-6.- http://www.ctl.utm.my/publications/manuals/mm/MIEducation.pdf, teknologi multimedia pendidikan- http://blank91.wordpress.com/2008/02/21/pengertian-multimedia/- Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.- id.wikipedia.org- Google.co.id- Azwar, Saifuddin.2005. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Minggu, 06 Juli 2008
ptk
BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang MasalahPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer (ICT) telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terkecuali terhadap SMP PGRI 17Surabaya . Pembelajaran yang menggunakan media berbasis komputer (ICT) merupakan terobosan yang baru di SMP PGRI 17 Surabaya yaitu dimulai tahun 2004 yang lalu. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.
Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis ICT. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas..Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau film.Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :a. Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia SMP,SMA.b. Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.c. Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.d. Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.e. Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.f. Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.g. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas VII dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.)Peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media pembelajaran ini segara harus dibuat.Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran “Sidoarjo Menangis“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “SM“). MPP “SM“ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan bencana yang berada di konteks sosial peneliti, yaitu bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena bencana ini telah menjadi wacana nasional yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahunan ke depan.Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “Sidoarjo Menangis“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya
1.2 Perumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
b. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi belajar siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.c. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
1.3 Tujuan PenelitianSejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
b. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelasVII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.c. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
1.4. Signifikansi PenelitianPenelitian ini diharapkan memiliki manfaat :a. Bagi guru(1) Untuk dapat mengembangkan profesionalisme guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita televisi(2) Sebagai latihan praktik langsung melalukan penelitian tindakan kelas.(3) Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.b. Bagi Siswa(1) Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran(2) Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahamic. Bagi Pendidikan dan PembelajaranUntuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif penerapannya.
1.5 Hipotesis TindakanBerdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
menilainya layak sebagai media pembelajaran.2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
BAB II KAJIAN PUSTAKA2.1 Media Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.
Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu :a. jenis orang (people)b. pesan atau informasi (message),c. jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunas (software) yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikandengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,compact disk (CD) program atau data.d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video, TV, Komputer, dan lain-lain.
e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah, ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik, dan sejenisnya.
Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD, Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.
Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalat alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konket, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran, keguaan media pembelajaran adalah :1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :a. objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, atau model;b. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;c. gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed photography.d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;e. Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model, diagram, dan lain-lain;f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk :a. menimbulkan kegairahan belajar;b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dengan kenyataan;c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4. Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :
a. memberikan perangsang yang sama;b. mempersamakan pengalaman;c. menimbulkan persepsi yang sama.2.2 Media Presentasi Pembelajaran
Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.
Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu :a. siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,b. dapat melatih dengan sabar,c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,e. dapat melakukan simulasi,f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolahMenurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:a. Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.d. Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.e. Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,f. Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.g. Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya. Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu dilakukan revisi.(2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi / komunikabilitas.h. Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.2.3 Motivasi BelajarMenurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.Macam-macam motivasia. Motivasi IntrinsikMotivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.b. Motivasi EkstrinsikMotivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.2.4 Pembelajaran MenyimakSecara garus besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaanya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa teknik pembelajaran menyimak, yaitu : (a) dengar-ulang ucap, (b) dengar tulis (dikte), (c) dengar kerjakan, (d) dengar terka, (e) memperluas kalimat, (f) menemukan benda, (g) seseorang bilang, (h) bisik berantai, (i) menyelesaikan cerita, (j) identifikasi kata kunci, (k) identifikasi kalimat topik, (l) menyingkat / merangkum, (m) parafrase, dan (n) menjawab pertanyaan.Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu :a. penyimak harus melibatkan diri secara total.b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepatc. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjangd. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan (Tarigan, 1994 : 87-89
BAB III METODOLOGI PENELITIAN3.1 Pendekatan PenelitianJenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapakan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat, dan merekam segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.3.2. Lokasi PenelitianLokasi penelitian ini di SMP PGRI 17 Karah Surabaya. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 14 – 26 Mei 2007. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas VII.3.3. Subjek Penelitian dan Pembatasan PenelitianSubjek penelitian ini adalah siswa SMP PGRI 17 Karah Surabaya. Jumlah kelas X ada 10 kelas. Setiap kelas terdiri atas 45-47 siswa. Komposisi kecerdasan siswa tiap kelas relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara acak dari kelas X, yaitu hanya kelas X-2, dan X-4.3.4. Prosedur PenelitianPenelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu : (1). Perencanaan tindakan (planning); (2). Pelaksanaan Tindakan (action); (3). Observasi (observation); dan (4). Refleksi (reflection).3.5. Instrumen PenelitianInstrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan GuruLembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi.2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap MediaTes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “SM“ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.3. Tes Motivasi SiswaTes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.4. Tes Kemampuan MenyimakUntuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.3.6. Teknik Analisis DataAnalisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.1. Analisis Kelayakan MediaEvaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “SM”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “SM” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan caraa. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :• pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaranTingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswaAdapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :Tingkat Kelayakan Media Rata-rata SkorSangat Tinggi 21 – 25 Sedang 11 – 15Rendah 6 – 10 Sangat Rendah 0 – 5 Tinggi 16 – 202. Analisis Aspek Motivasi SiswaMotivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara : pilihan jawaban a (sangat§ setuju) dinilai skor 5• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1b. menghitung tingkat motivasi siswaTingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :Rata-rata skor = Jumlah skor motivasi siswa/ Jumlah siswaAdapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :Tingkat Motivasi Belajar Siswa Rata-rata / SkorSangat Tinggi 21 – 25 Sedang 11 – 15Rendah 6 – 10 Sangat Rendah 0 – 5 Tinggi 16 – 203. Analisis Hasil Tes Kemampuan MenyimakHasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penetuan skornya digunakan kriteria sebagai berikut.SKOR Taraf Kemampuan Ketentuan81 – 100 Sangat Baik 5 unsur terpenuhi 41 – 60 Cukup 3 unsur terpenuhi21 – 40 Kurang Baik 2 unsur terpenuhi 0 – 20 Buruk 1 unsur terpenuhi61 – 80 Baik 4 unsur terpenuhiHasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1 dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.
BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA4.1 Penyajian DataSecara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:• Observasi Awal ( 21 Mei 2007)Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas VII, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah :a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televisib. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar bencana Lapindo Brantas, danc. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar bencana Lapindo Brantas dengan batasan topik :• dampak bencana Lapindo Brantas,• bagaimana kehidupan pengungsi, dan• upaya penanggulangannya, serta• dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi.d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.• Refleksi AwalHasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas VII sebagai berikut:1. Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.2. Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang perdulic. ada yang pernah melihat berita televisi tentang bencana Lapindo Brantas, namun telah lupa ide-ide pokoknya,d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menuliskannya.3. Hasil tulisan siswa menunjukkan :a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbedab. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda antara setiap siswac. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari pengalamannya dari rata-rata para siswa tinggal relatif tidak jauh dari lokasi bencanad. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.• Rencana Tindakan 11. Membuat media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, dan mengemasnya dalam compact disk (CD)2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 45 menit, maka diatur waktunya sebagai berikut :a. pengantar : 5 menitb. penjelasan awal : 5 menitc. presentasi media pembelajaran : 45 menitd. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 30e penutup : 5 menit3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di ruang multimedia (moving class).4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa dan kelayakan MPP “SM”• Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus 1)Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan penelitian adalah :1. Melakukan penelitian pada kelas VII (kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak ada / kosong)2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP “SM” pada layar selama 45 menit secara terus-menerus.5. Setelah selesai penayangan MPP “SM” tersebut, peneliti menugasi siswa selama 30 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan urutan topik : dampak bencana, kehidupan pengungsi, dan upaya penanggulangannya.6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.• Observasi 11. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.4. Peneliti menemukan beberapa yang janggal dalam MPP “SM”, yaitu :a. Ada space kosong di tengah, perlu diberikan gambaran background layerb. Background mestinya sama, setelah tayangan video berita dan menuju tombol skip.c. Akan lebih indah bila huruf judul tertentu diberikan blow effect.d. Tidak ada file autorun• Refleksi 11. Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat tayangan MPP “SM” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan menuliskannya nanti.3. Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.• Rencana Tindakan 21. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa kondusif terhadap situasi bencana yang memang menyedihkan.2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:a. Tahap 1 :- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitb. Tahap 2 :- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitc. Tahap 3 :- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.• Pelksanaan Tindakan 2 (Siklus 2) (Kamis, 24 Mei 2007)Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.1. Penelitian dilakukan pada kelas VII pada hari Kamis, 24 Mei 2007 Jam ke-5-6 dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang multimedia.2. Peneliti memberikan pengatar materi.3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap yang direncanakan, yaitu :a. Tahap 1 :- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitb. Tahap 2 :- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitc. Tahap 3 :- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit4. Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat.5. Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.• Observasi 21. Siswa kelas X-2 juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”. Sebagaimana kelas X-4, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.5. Peneliti masih menemukan beberapa yang janggal dalam media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, yaitu :a. ada beberapa file yang tidak gayut dan sebaiknya dihapus, yaitu : file master, file bank, dan file test.b. File flash player perlu dimasukkan cd• Refleksi 2 (Akhir)1. Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “SM”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.2. Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.3. Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.4.2 Analisis Data1. Data Aktivitas Guru dan SiswaData aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 4.1Data Aktivitas Guru dalam Proses PembelajaranAktivitas Siklus 1 Siklus 2 Frekuensi / % Frekuensi / %a. Membuka pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)b. Memberikan apersepsi 1 x (1,54%) 1x (1,56%)c. Memberikan petunjuk 1 x (1,54%) 1x (1,56%)d. Memutar MPP “SM” 10 x (18,51%) 10x (15,62%)e. Pause MPP “SM” 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%) 10x (16,62%)g. Menugasi siswa membuat catatan - 10x (16,62%)h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)i. Mengamati siswa 18 x (33,33%) 18x (28,12%)j. Menutup pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)Tabel 4.2Data Aktivitas Siswa dalam Proses PembelajaranAktivitas Siklus 1 Siklus 2 % siswa % siswaa. Memperhatikan penjelasan guru 45 (100%) 42 (100%)b. Menyimak MPP “SM” 45 (100%) 42 (100%)c. Membaca buku 0 0d. Membuat catatan sendiri terkaitmateri menyimak 9 (20%) 40 (88%)e. d. Menulis sesuai perintah guru 45 (100%) 42 (100%)f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran 0 0g. Menyampaikan ide / pendapat 0 0
h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran 2 (4%) pada 5 menit pertama 0Data tabel 4.1 dan 4.2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak MPP “SM”.Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (4%) pada siklus 1 yaitu kelas VII yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (20%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 40 siswa (95,23%) membuat catatan kecil saat menyimak.
2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media PembelajaranPenelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “SM” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.Tabel 4.3Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”Sebagai Media PembelajaranSiklus 1 (Kelas VII)No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor1 Achmad Nafi 19 26 M. Rachmanto 192 Adam Lukman F 21 27 M. Hardianto S 203 Aisyah Nurdeka 19 28 M. Irvan R 204 Alfiyah Nur K 20 29 M. Agung S 185 Aulia Alfi Ismi I 19 30 M. Azam Zur’ain 216 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 167 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 198 Desi Dwi A 19 33 Nur Afifah 179 Dimas Dwi A 20 34 Nur Mayasari 1710 Eka Retno O 20 35 Olvy Trismayuni 1711 Fajar Adi P 16 36 Rani Rahmawati 1712 Fitri Muttafaqoh 21 37 Ria Rilla R ===13 Henik Nur A 20 38 Rina Puspita Ningsih 2014 Hindriyani R 17 39 Risca Faiqotin 1915 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 2016 Istikhomah 14 41 Rusvita Efendi 1917 Juwita Tri Septasari 20 42 Sherly Dwi KA 1918 Khoirun Nisak 16 43 Siti Mutrofin ===19 Khusniatin N 16 44 Siti Rosyidah 1720 Lailatul M 17 45 45. Winda S. 1821 Lailis Savitri 16 46 Wulan Indah C 2222 Larastika DW 21 47 Yudhi Aprianto 1923 Luluk Nuraini M 19 Total 82424 M. Arifuddin 18 Jumlah Siswa 4525 M. Nurul Burhani 19 Rata-rata 18,31Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 18,31. Sementara itu dalam tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 19,64. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “SM” tergolong tinggi. Artinya, MPP “SM” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.3. Data Hasil Tes Motivasi BelajarTes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas X-4, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas X-2.Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut.Tabel 4.5Skor Hasil Tes Motivasi Belajar SiswaSiklus 1 (Kelas XII)No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor1 Achmad Nafi 22 26 M. Rachmanto 232 Adam Lukman F 22 27 M. Hardianto S 203 Aisyah Nurdeka 20 28 M. Irvan R 204 Alfiyah Nur K 21 29 M. Agung S 205 Aulia Alfi Ismi I 24 30 M. Azam Zur’ain 236 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 237 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 208 Desi Dwi A 20 33 Nur Afifah 199 Dimas Dwi A 21 34 Nur Mayasari 2210 Eka Retno O 21 35 Olvy Trismayuni 2111 Fajar Adi P 19 36 Rani Rahmawati 1712 Fitri Muttafaqoh 22 37 Ria Rilla R ===13 Henik Nur A 21 38 Rina Puspita Ningsih 2014 Hindriyani R 19 39 Risca Faiqotin 2115 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 2116 Istikhomah 18 41 Rusvita Efendi 2117 Juwita Tri Septasari 21 42 Sherly Dwi KA 2018 Khoirun Nisak 20 43 Siti Mutrofin ===19 Khusniatin N 18 44 Siti Rosyidah 2020 Lailatul M 22 45 45. Winda S. 2321 Lailis Savitri 19 46 Wulan Indah C 2122 Larastika DW 24 47 Yudhi Aprianto 2123 Luluk Nuraini M 21 Total 93324 M. Arifuddin 19 Jumlah Siswa 4525 M. Nurul Burhani 22 Rata-rata 20,73Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-4 rata-rata skornya 20,73. Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya, siswa kelas X memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “SM”.4. Data Hasil Tes Kemampuan MenyimakPenelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “SM”. Pada siklus 1 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas VII.Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.Tabel 4.7Skor Hasil Tes Kemampuan MenyimakSiklus 1 (Kelas X-4)No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor1 Achmad Nafi 66 26 M. Rachmanto 662 Adam Lukman F 86 27 M. Hardianto S 733 Aisyah Nurdeka 90 28 M. Irvan R 534 Alfiyah Nur K 73 29 M. Agung S 905 Aulia Alfi Ismi I 60 30 M. Azam Zur’ain 666 Ayu Rohmah P 73 31 Nashrulloh Ibadi 837 Chusnul Ch 73 32 Nita Apri Rosalina 868 Desi Dwi A 80 33 Nur Afifah 809 Dimas Dwi A 90 34 Nur Mayasari 7310 Eka Retno O 70 35 Olvy Trismayuni 8611 Fajar Adi P 73 36 Rani Rahmawati 6612 Fitri Muttafaqoh 90 37 Ria Rilla R ===13 Henik Nur A 66 38 Rina Puspita Ningsih 7314 Hindriyani R 80 39 Risca Faiqotin 9015 Ike Oktavianis 76 40 Rizky Amelia 9616 Istikhomah 83 41 Rusvita Efendi 6317 Juwita Tri Septasari 73 42 Sherly Dwi KA 9018 Khoirun Nisak 73 43 Siti Mutrofin ===19 Khusniatin N 66 44 Siti Rosyidah 8020 Lailatul M 86 45 45. Winda S. 9321 Lailis Savitri 76 46 Wulan Indah C 8622 Larastika DW 93 47 Yudhi Aprianto 7623 Luluk Nuraini M 76 Total 343124 M. Arifuddin 90 Jumlah Siswa 4525 M. Nurul Burhani 70 Rata-rata 77,24Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-4 pada siklus 1 rata-rata skornya 77,24.Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas X-4 tergolong baik.Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “SM”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada silus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.Aspek Siklus 1 Siklus 2 KeteranganAktivitas Guru - membuka pembelajaran- memberikan penjelasanAwal - membuka pembelajaran- memberikan penjelasanawal - aktivitas sama- aktivitas sama- menugasi menyimak terus menerus (45 menit)- menugasi menulis 3 topik sekaligus (30 menit)- menugasi menyimak pertopik (15 menit)kemudian menulis (10menit)- perbaikan cara- tidak menghimbau siswa membuat catatan kecil- menghimbau siswamembuat catatan kecil- perbaikan cara- melakukan observasi- menutup pelajaran- melakukan observasi- menutup pelajaran- aktivitas samaAktivitas Siswa - menerima penjelasanAwal - menerima penjelasanawal - aktivitas sama- menyimak terus menerus (45 menit)- menulis 3 topik sekaligus (30 menit) hasil simakan- sebagian kecil siswa (20%)membuat catatan kecil - menyimak bertahap (15 menit menyimak dan 10 menitmenuliskannya) hingga 3 tahap- sebagian besar siswa (88%) membuat catatan kecil
- perbaikan cara- perbaikan caraMPP “SM” - space kosong di tengah- background mestinya sama setelah skip- huruf statis monoton
- belum diberi autorun - space kosong di tengah sudah diperbaiki- membuat background sama setelah skip- huruf di blow effect- diberi autorun- perbaikan desain mediaKelayakan MPP “SM” Skor rata-rata 18,31 Skor rata-rata 19,64 - peningkatan skorrata-rata 1,33Motivasi Siswa Skor rata-rata20,73 Skor rata-rata20,69 - perbedaan skorrata-rata 0,04
Kemampuan Menyimak Skor rata-rata77,24 Skor rata-rata89,47 - peningkatanSkor rata-rata12,234.3 InterpretasiBerdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :(1) MPP “SM” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.MPP “SM” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :a. Materi MPP “SM” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan filmnya sudahbaikc. MPP “SM” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajarand. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “SM” sudah jelas dan tidakmembingungkane. MPP “SM” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya menilainya layak sebagai media pembelajaran.(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 77,24 (tingkatan baik) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 89,47 (tingkatan sangat baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,23. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “SM” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
BAB V PENUTUP5.1 SimpulanDari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.1. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “SM” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.2. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “SM” sebagai media membelajaran.3. Penerapkan MPP “SM” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.5.2 SaranDisamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:1. Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalan belajar2. Media pembelajaran disamping gayut dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya3. Pada era ICT (Information Computer & Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.
DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA). Surabaya University Press IKIP Surabaya.Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.---------------------. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.---------------------. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa..
Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis ICT. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas..Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau film.Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :a. Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia SMP,SMA.b. Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.c. Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.d. Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.e. Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.f. Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.g. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas VII dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.)Peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media pembelajaran ini segara harus dibuat.Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran “Sidoarjo Menangis“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “SM“). MPP “SM“ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan bencana yang berada di konteks sosial peneliti, yaitu bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena bencana ini telah menjadi wacana nasional yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahunan ke depan.Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “Sidoarjo Menangis“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya
1.2 Perumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
b. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi belajar siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.c. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
1.3 Tujuan PenelitianSejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
b. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelasVII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.c. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
1.4. Signifikansi PenelitianPenelitian ini diharapkan memiliki manfaat :a. Bagi guru(1) Untuk dapat mengembangkan profesionalisme guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita televisi(2) Sebagai latihan praktik langsung melalukan penelitian tindakan kelas.(3) Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.b. Bagi Siswa(1) Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran(2) Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahamic. Bagi Pendidikan dan PembelajaranUntuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif penerapannya.
1.5 Hipotesis TindakanBerdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
menilainya layak sebagai media pembelajaran.2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
BAB II KAJIAN PUSTAKA2.1 Media Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.
Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu :a. jenis orang (people)b. pesan atau informasi (message),c. jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunas (software) yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikandengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,compact disk (CD) program atau data.d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video, TV, Komputer, dan lain-lain.
e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah, ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik, dan sejenisnya.
Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD, Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.
Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalat alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konket, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran, keguaan media pembelajaran adalah :1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :a. objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, atau model;b. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;c. gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed photography.d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;e. Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model, diagram, dan lain-lain;f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk :a. menimbulkan kegairahan belajar;b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dengan kenyataan;c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4. Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :
a. memberikan perangsang yang sama;b. mempersamakan pengalaman;c. menimbulkan persepsi yang sama.2.2 Media Presentasi Pembelajaran
Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.
Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu :a. siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,b. dapat melatih dengan sabar,c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,e. dapat melakukan simulasi,f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolahMenurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:a. Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.d. Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.e. Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,f. Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.g. Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya. Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu dilakukan revisi.(2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi / komunikabilitas.h. Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.2.3 Motivasi BelajarMenurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.Macam-macam motivasia. Motivasi IntrinsikMotivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.b. Motivasi EkstrinsikMotivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.2.4 Pembelajaran MenyimakSecara garus besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaanya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa teknik pembelajaran menyimak, yaitu : (a) dengar-ulang ucap, (b) dengar tulis (dikte), (c) dengar kerjakan, (d) dengar terka, (e) memperluas kalimat, (f) menemukan benda, (g) seseorang bilang, (h) bisik berantai, (i) menyelesaikan cerita, (j) identifikasi kata kunci, (k) identifikasi kalimat topik, (l) menyingkat / merangkum, (m) parafrase, dan (n) menjawab pertanyaan.Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu :a. penyimak harus melibatkan diri secara total.b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepatc. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjangd. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan (Tarigan, 1994 : 87-89
BAB III METODOLOGI PENELITIAN3.1 Pendekatan PenelitianJenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapakan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat, dan merekam segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.3.2. Lokasi PenelitianLokasi penelitian ini di SMP PGRI 17 Karah Surabaya. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 14 – 26 Mei 2007. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas VII.3.3. Subjek Penelitian dan Pembatasan PenelitianSubjek penelitian ini adalah siswa SMP PGRI 17 Karah Surabaya. Jumlah kelas X ada 10 kelas. Setiap kelas terdiri atas 45-47 siswa. Komposisi kecerdasan siswa tiap kelas relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara acak dari kelas X, yaitu hanya kelas X-2, dan X-4.3.4. Prosedur PenelitianPenelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu : (1). Perencanaan tindakan (planning); (2). Pelaksanaan Tindakan (action); (3). Observasi (observation); dan (4). Refleksi (reflection).3.5. Instrumen PenelitianInstrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan GuruLembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi.2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap MediaTes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “SM“ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.3. Tes Motivasi SiswaTes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.4. Tes Kemampuan MenyimakUntuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.3.6. Teknik Analisis DataAnalisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.1. Analisis Kelayakan MediaEvaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “SM”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “SM” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan caraa. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :• pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaranTingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswaAdapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :Tingkat Kelayakan Media Rata-rata SkorSangat Tinggi 21 – 25 Sedang 11 – 15Rendah 6 – 10 Sangat Rendah 0 – 5 Tinggi 16 – 202. Analisis Aspek Motivasi SiswaMotivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara : pilihan jawaban a (sangat§ setuju) dinilai skor 5• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1b. menghitung tingkat motivasi siswaTingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :Rata-rata skor = Jumlah skor motivasi siswa/ Jumlah siswaAdapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :Tingkat Motivasi Belajar Siswa Rata-rata / SkorSangat Tinggi 21 – 25 Sedang 11 – 15Rendah 6 – 10 Sangat Rendah 0 – 5 Tinggi 16 – 203. Analisis Hasil Tes Kemampuan MenyimakHasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penetuan skornya digunakan kriteria sebagai berikut.SKOR Taraf Kemampuan Ketentuan81 – 100 Sangat Baik 5 unsur terpenuhi 41 – 60 Cukup 3 unsur terpenuhi21 – 40 Kurang Baik 2 unsur terpenuhi 0 – 20 Buruk 1 unsur terpenuhi61 – 80 Baik 4 unsur terpenuhiHasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1 dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.
BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA4.1 Penyajian DataSecara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:• Observasi Awal ( 21 Mei 2007)Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas VII, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah :a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televisib. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar bencana Lapindo Brantas, danc. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar bencana Lapindo Brantas dengan batasan topik :• dampak bencana Lapindo Brantas,• bagaimana kehidupan pengungsi, dan• upaya penanggulangannya, serta• dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi.d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.• Refleksi AwalHasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas VII sebagai berikut:1. Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.2. Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang perdulic. ada yang pernah melihat berita televisi tentang bencana Lapindo Brantas, namun telah lupa ide-ide pokoknya,d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menuliskannya.3. Hasil tulisan siswa menunjukkan :a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbedab. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda antara setiap siswac. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari pengalamannya dari rata-rata para siswa tinggal relatif tidak jauh dari lokasi bencanad. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.• Rencana Tindakan 11. Membuat media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, dan mengemasnya dalam compact disk (CD)2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 45 menit, maka diatur waktunya sebagai berikut :a. pengantar : 5 menitb. penjelasan awal : 5 menitc. presentasi media pembelajaran : 45 menitd. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 30e penutup : 5 menit3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di ruang multimedia (moving class).4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa dan kelayakan MPP “SM”• Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus 1)Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan penelitian adalah :1. Melakukan penelitian pada kelas VII (kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak ada / kosong)2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP “SM” pada layar selama 45 menit secara terus-menerus.5. Setelah selesai penayangan MPP “SM” tersebut, peneliti menugasi siswa selama 30 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan urutan topik : dampak bencana, kehidupan pengungsi, dan upaya penanggulangannya.6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.• Observasi 11. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.4. Peneliti menemukan beberapa yang janggal dalam MPP “SM”, yaitu :a. Ada space kosong di tengah, perlu diberikan gambaran background layerb. Background mestinya sama, setelah tayangan video berita dan menuju tombol skip.c. Akan lebih indah bila huruf judul tertentu diberikan blow effect.d. Tidak ada file autorun• Refleksi 11. Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat tayangan MPP “SM” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan menuliskannya nanti.3. Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.• Rencana Tindakan 21. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa kondusif terhadap situasi bencana yang memang menyedihkan.2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:a. Tahap 1 :- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitb. Tahap 2 :- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitc. Tahap 3 :- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.• Pelksanaan Tindakan 2 (Siklus 2) (Kamis, 24 Mei 2007)Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.1. Penelitian dilakukan pada kelas VII pada hari Kamis, 24 Mei 2007 Jam ke-5-6 dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang multimedia.2. Peneliti memberikan pengatar materi.3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap yang direncanakan, yaitu :a. Tahap 1 :- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitb. Tahap 2 :- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menitc. Tahap 3 :- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit4. Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat.5. Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.• Observasi 21. Siswa kelas X-2 juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”. Sebagaimana kelas X-4, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.5. Peneliti masih menemukan beberapa yang janggal dalam media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, yaitu :a. ada beberapa file yang tidak gayut dan sebaiknya dihapus, yaitu : file master, file bank, dan file test.b. File flash player perlu dimasukkan cd• Refleksi 2 (Akhir)1. Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “SM”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.2. Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.3. Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.4.2 Analisis Data1. Data Aktivitas Guru dan SiswaData aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 4.1Data Aktivitas Guru dalam Proses PembelajaranAktivitas Siklus 1 Siklus 2 Frekuensi / % Frekuensi / %a. Membuka pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)b. Memberikan apersepsi 1 x (1,54%) 1x (1,56%)c. Memberikan petunjuk 1 x (1,54%) 1x (1,56%)d. Memutar MPP “SM” 10 x (18,51%) 10x (15,62%)e. Pause MPP “SM” 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%) 10x (16,62%)g. Menugasi siswa membuat catatan - 10x (16,62%)h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)i. Mengamati siswa 18 x (33,33%) 18x (28,12%)j. Menutup pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)Tabel 4.2Data Aktivitas Siswa dalam Proses PembelajaranAktivitas Siklus 1 Siklus 2 % siswa % siswaa. Memperhatikan penjelasan guru 45 (100%) 42 (100%)b. Menyimak MPP “SM” 45 (100%) 42 (100%)c. Membaca buku 0 0d. Membuat catatan sendiri terkaitmateri menyimak 9 (20%) 40 (88%)e. d. Menulis sesuai perintah guru 45 (100%) 42 (100%)f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran 0 0g. Menyampaikan ide / pendapat 0 0
h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran 2 (4%) pada 5 menit pertama 0Data tabel 4.1 dan 4.2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak MPP “SM”.Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (4%) pada siklus 1 yaitu kelas VII yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (20%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 40 siswa (95,23%) membuat catatan kecil saat menyimak.
2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media PembelajaranPenelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “SM” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.Tabel 4.3Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”Sebagai Media PembelajaranSiklus 1 (Kelas VII)No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor1 Achmad Nafi 19 26 M. Rachmanto 192 Adam Lukman F 21 27 M. Hardianto S 203 Aisyah Nurdeka 19 28 M. Irvan R 204 Alfiyah Nur K 20 29 M. Agung S 185 Aulia Alfi Ismi I 19 30 M. Azam Zur’ain 216 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 167 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 198 Desi Dwi A 19 33 Nur Afifah 179 Dimas Dwi A 20 34 Nur Mayasari 1710 Eka Retno O 20 35 Olvy Trismayuni 1711 Fajar Adi P 16 36 Rani Rahmawati 1712 Fitri Muttafaqoh 21 37 Ria Rilla R ===13 Henik Nur A 20 38 Rina Puspita Ningsih 2014 Hindriyani R 17 39 Risca Faiqotin 1915 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 2016 Istikhomah 14 41 Rusvita Efendi 1917 Juwita Tri Septasari 20 42 Sherly Dwi KA 1918 Khoirun Nisak 16 43 Siti Mutrofin ===19 Khusniatin N 16 44 Siti Rosyidah 1720 Lailatul M 17 45 45. Winda S. 1821 Lailis Savitri 16 46 Wulan Indah C 2222 Larastika DW 21 47 Yudhi Aprianto 1923 Luluk Nuraini M 19 Total 82424 M. Arifuddin 18 Jumlah Siswa 4525 M. Nurul Burhani 19 Rata-rata 18,31Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 18,31. Sementara itu dalam tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 19,64. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “SM” tergolong tinggi. Artinya, MPP “SM” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.3. Data Hasil Tes Motivasi BelajarTes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas X-4, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas X-2.Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut.Tabel 4.5Skor Hasil Tes Motivasi Belajar SiswaSiklus 1 (Kelas XII)No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor1 Achmad Nafi 22 26 M. Rachmanto 232 Adam Lukman F 22 27 M. Hardianto S 203 Aisyah Nurdeka 20 28 M. Irvan R 204 Alfiyah Nur K 21 29 M. Agung S 205 Aulia Alfi Ismi I 24 30 M. Azam Zur’ain 236 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 237 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 208 Desi Dwi A 20 33 Nur Afifah 199 Dimas Dwi A 21 34 Nur Mayasari 2210 Eka Retno O 21 35 Olvy Trismayuni 2111 Fajar Adi P 19 36 Rani Rahmawati 1712 Fitri Muttafaqoh 22 37 Ria Rilla R ===13 Henik Nur A 21 38 Rina Puspita Ningsih 2014 Hindriyani R 19 39 Risca Faiqotin 2115 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 2116 Istikhomah 18 41 Rusvita Efendi 2117 Juwita Tri Septasari 21 42 Sherly Dwi KA 2018 Khoirun Nisak 20 43 Siti Mutrofin ===19 Khusniatin N 18 44 Siti Rosyidah 2020 Lailatul M 22 45 45. Winda S. 2321 Lailis Savitri 19 46 Wulan Indah C 2122 Larastika DW 24 47 Yudhi Aprianto 2123 Luluk Nuraini M 21 Total 93324 M. Arifuddin 19 Jumlah Siswa 4525 M. Nurul Burhani 22 Rata-rata 20,73Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-4 rata-rata skornya 20,73. Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya, siswa kelas X memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “SM”.4. Data Hasil Tes Kemampuan MenyimakPenelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “SM”. Pada siklus 1 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas VII.Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.Tabel 4.7Skor Hasil Tes Kemampuan MenyimakSiklus 1 (Kelas X-4)No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor1 Achmad Nafi 66 26 M. Rachmanto 662 Adam Lukman F 86 27 M. Hardianto S 733 Aisyah Nurdeka 90 28 M. Irvan R 534 Alfiyah Nur K 73 29 M. Agung S 905 Aulia Alfi Ismi I 60 30 M. Azam Zur’ain 666 Ayu Rohmah P 73 31 Nashrulloh Ibadi 837 Chusnul Ch 73 32 Nita Apri Rosalina 868 Desi Dwi A 80 33 Nur Afifah 809 Dimas Dwi A 90 34 Nur Mayasari 7310 Eka Retno O 70 35 Olvy Trismayuni 8611 Fajar Adi P 73 36 Rani Rahmawati 6612 Fitri Muttafaqoh 90 37 Ria Rilla R ===13 Henik Nur A 66 38 Rina Puspita Ningsih 7314 Hindriyani R 80 39 Risca Faiqotin 9015 Ike Oktavianis 76 40 Rizky Amelia 9616 Istikhomah 83 41 Rusvita Efendi 6317 Juwita Tri Septasari 73 42 Sherly Dwi KA 9018 Khoirun Nisak 73 43 Siti Mutrofin ===19 Khusniatin N 66 44 Siti Rosyidah 8020 Lailatul M 86 45 45. Winda S. 9321 Lailis Savitri 76 46 Wulan Indah C 8622 Larastika DW 93 47 Yudhi Aprianto 7623 Luluk Nuraini M 76 Total 343124 M. Arifuddin 90 Jumlah Siswa 4525 M. Nurul Burhani 70 Rata-rata 77,24Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-4 pada siklus 1 rata-rata skornya 77,24.Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas X-4 tergolong baik.Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “SM”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada silus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.Aspek Siklus 1 Siklus 2 KeteranganAktivitas Guru - membuka pembelajaran- memberikan penjelasanAwal - membuka pembelajaran- memberikan penjelasanawal - aktivitas sama- aktivitas sama- menugasi menyimak terus menerus (45 menit)- menugasi menulis 3 topik sekaligus (30 menit)- menugasi menyimak pertopik (15 menit)kemudian menulis (10menit)- perbaikan cara- tidak menghimbau siswa membuat catatan kecil- menghimbau siswamembuat catatan kecil- perbaikan cara- melakukan observasi- menutup pelajaran- melakukan observasi- menutup pelajaran- aktivitas samaAktivitas Siswa - menerima penjelasanAwal - menerima penjelasanawal - aktivitas sama- menyimak terus menerus (45 menit)- menulis 3 topik sekaligus (30 menit) hasil simakan- sebagian kecil siswa (20%)membuat catatan kecil - menyimak bertahap (15 menit menyimak dan 10 menitmenuliskannya) hingga 3 tahap- sebagian besar siswa (88%) membuat catatan kecil
- perbaikan cara- perbaikan caraMPP “SM” - space kosong di tengah- background mestinya sama setelah skip- huruf statis monoton
- belum diberi autorun - space kosong di tengah sudah diperbaiki- membuat background sama setelah skip- huruf di blow effect- diberi autorun- perbaikan desain mediaKelayakan MPP “SM” Skor rata-rata 18,31 Skor rata-rata 19,64 - peningkatan skorrata-rata 1,33Motivasi Siswa Skor rata-rata20,73 Skor rata-rata20,69 - perbedaan skorrata-rata 0,04
Kemampuan Menyimak Skor rata-rata77,24 Skor rata-rata89,47 - peningkatanSkor rata-rata12,234.3 InterpretasiBerdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :(1) MPP “SM” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.MPP “SM” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :a. Materi MPP “SM” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan filmnya sudahbaikc. MPP “SM” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajarand. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “SM” sudah jelas dan tidakmembingungkane. MPP “SM” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya menilainya layak sebagai media pembelajaran.(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 77,24 (tingkatan baik) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 89,47 (tingkatan sangat baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,23. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “SM” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas VII SMP PGRI 17 Karah Surabaya.
BAB V PENUTUP5.1 SimpulanDari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.1. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “SM” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.2. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “SM” sebagai media membelajaran.3. Penerapkan MPP “SM” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.5.2 SaranDisamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:1. Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalan belajar2. Media pembelajaran disamping gayut dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya3. Pada era ICT (Information Computer & Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.
DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA). Surabaya University Press IKIP Surabaya.Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.---------------------. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.---------------------. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa..
Sabtu, 05 Juli 2008
BAB 4 5
BAB IV
ASPEK SIMBOLIS DALAM NOVEL NYALI
Webster mengatakan bahwa simbol adalah sesuatu yang merujuk atau mengingatkan pada sesuatu yang lain karena alasan hubungan, asosiasi, konvensi atau kebetulan, tapi bukan sesuatu yang menyerupai; khususnya sebuah tanda yang menampakkan sesuatu yang tidak nampak, seperti ide, kualitas atau totalitas, misalnya negara atau gereja.337.
Kata simbol dan tanda (sign) secara umum bisa dipertukarkan, seperti dikatakan oleh William York Tindall:
Kata simbol dan tanda secara umum bisa dipertukarkan. Pada saat tertentu satu benda diartikan oleh tanda dan pada saat yang lain diartikan oleh simbol. Oleh sebab itu tanda memiliki arti referensi eksak, termasuk simbol, dan simbol mengandung arti sarana sugestif, termasuk tanda.ibid. hal 337.
Namun demikian kata simbol dan tanda memiliki perbedaan. Menurut William York Tindall, jika kita mengartikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah rujukan eksak, hal ini berarti menyangkut simbol, karena simbol adalah sebuah rujukan eksak juga. Perbedaannya terlihat bahwa sebuah tanda (sign) adalah sebuah rujukan eksak kepada sesuatu yang definitif dan simbol merupakan rujukan eksak kepada sesuatu yang indefinitif. ibid. hal 350.
Dalam hal hubungan korenpondensi, kata tanda adalah korespondensi satu-satu. Contoh: bendera Amerika adalah tanda United States yang digunakan untuk mengenali kantor pos, kantor pajak pendapatan, dan kapal. ibid. hal 337.
Sedangkan korespondensi simbolis tidak pernah satu-satu, tapi selalu banyak dan orang yang berbeda akan menangkap arti yang berbeda pula. ibid. hal 350.
Karya seni termasuk karya sastra adalah bentuk sim- bolis, sejajar dengan agama atau ilmu. Namun demikian bentuk-bentuk simbol ini selain memiliki persamaan, juga mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam kaitan ini William York Tindall mengatakan:
Bentuk-bentuk ini dibangun oleh semesta yang memungkinkan orang untuk menafsirkan dan mengenali peng- alamannya; dan sebuah penemuan realitas, karena sebuah bentuk-bentuk simbolis tersebut merupakan kreasi. Meskipun mirip dalam hal fungsi, bentuk- bentuk simbol ini berbeda dalam hal jenis realitas yang membangunnya. Ilmu dibangun oleh fakta-fakta , seni dibangun dengan perasaan, intuisi dan segi kehidupan lainnya. ibid. hal 337.
Menurut Langer Via William York Tindall. ibid. hal 338.
, seni berbeda dengan bentuk simbol yang lain dalam hal bahan dan sesuatu yang disimbolkan. Sebagaimana musik menggunakan suara, lukisan menggunakan warna, patung menggunakan pahatan, dan sastra menggunakan kata untuk menciptakan citraan tentang waktu, ruang atau gelora perasaan.
Novel merupakan bentuk simbolis dan dalam novel juga terkandung simbol-simbol yang merupakan kreasi dari pengarangnya. Menurut Ursula BrummFree Press. halaman 356.
, pengujian secara historis menunjukkan bahwa opini yang ada sekarang ini tidak dapat dibenarkan, yakni simbolisme dikembangkan oleh penulis-penulis modern, bukan kebutuhan kondisi sastra, atau bukan semua novel yang mengandung simbol. Novel besar abad sembilan belas bukan produk dari kerja imajinasi dalam bentuk-bentuk simbolis. Ini adalah representasi kehidupan, tapi bukan sebuah representasi simbolis.
Pada bagian ini penulis menguraikan aspek simbolis dalam novel Nyali yang diintrepretasikan secara sosio- logis. Hal ini dimaksudkan sebagai kelengkapan analisis sosiologis yang tidak sekedar bersifat historis. Simbol- simbol tersebut menyangkut pada penggunaan nama-nama dan peristiwa-peristiwa simbolis.
4.1. Penggunaan Nama
Nama-nama yang terdapat dalam novel Nyali boleh dikatakan memiliki keanehan, baik nama diri (nama tokoh) dan nama tempat. Nama-nama tersebut ada yang memiliki arti tertentu, namun sebagian besar terkesan bukan nama yang lazim dipergunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.
Tokoh utama dalam novel ini menggunakan nama Kropos. Penggunaan nama ini masih mempunyai arti tertentu. Dalam bahasa Jawa istilah "kropos" berarti sebuah benda yang kulit luarnya nampak baik, tetapi isinya rapuh seperti kayu yang bagian luarnya nampak baik tetapi bagian dalamnya rapuh karena dimakan rayap. Penggunaan nama Kropos ini kontradiktif dengan watak tokoh Kropos. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab dua, Kropos memiliki dimensi watak yang keras, teguh, tabah dalam menjalani berbagai ujian berat dan tahan dalam segala bentuk siksaan dan penderitaan. Ia tidak mudah putus asa walaupun tugas yang ia emban sangat berat dan hampir bisa dikatakan mustahil. Keadaan yang kontradiktif antara arti nama dan watak tokoh utama dalam novel ini mengandung makna dialektis, artinya meskipun seseorang memiliki watak yang keras, tabah, tangguh, dan berdisiplin tinggi, namun sesungguhnya dalam diri seseorang juga terdapat potensi sifat-sifat yang negatif. Seperti halnya mata uang yang memiliki dua muka, pada sisi Kropos mempunyai sifat-sifat yang keras, tabah dalam menghadapi segala pengujian yang berat, dan merupakan pemimpin yang punya disiplin baja, namun pada sisi lain terdapat potensi sifat-sifat yang negatif. Munculnya sifat-sifat yang berlawanan tersebut tergantung dari situasi dan kondisi yang melingkupinya. Ketika Kropos berada dalam lingkungan yang keras dan menuntut ketabahan fisik dan mental, watak Kropos yang positif muncul dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, tatkala gerombolan Zabaza berhasil ditumpas oleh tentara kerajaan, watak Kropos mengalami kemunduran. Ia menjadi putus asa. Kropos mengasingkan diri dari kehidupan ramai dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.ketika ia ditangkap Belanda, justru ia sangat ketakutan dan gugup.
Dengan kata lain sifat rapuh pada diri Kropos menjadi aktual ketika ia berada dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan keputusasaan.
Makna simbolis dari nama ini sesungguhnya memiliki kesejajaran dengan realitas sejarah. Bila Kropos dipandang sebagai personifikasi gerombolan Zabaza dan Zabaza dipandang sebagai sebuah ideologitahu, Zabaza bukan orang, tetapi semacam ideologi...."
, maka hal ini dapat diinterpretasikan bahwa meskipun ideologi memiliki karakteristik yang efektif dan tangguh, tetapi sesungguhnya ia juga memiliki kelemahan. Dalam konteks novel Nyali, ideologi Zabaza sesungguhnya memiliki kelemahan. kelemahannya terletak pada sifatnya yang dogmatis dan doktriner. Sifat ini sangat dipatuhi oleh anggotanya dan telah mendarah daging, sehingga mereka tidak punya pilihan lain dan tidak ada upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam masyarakat. Hal ini terlihat dari tiadanya dimensi fleksibelitas dalam Zabaza.
Sebagaimana telah penulis sebutkan pada bab terdahulu, dalam beberapa hal Zabaza memiliki kesejajaran dengan PKI. Apabila Zabaza dipandang sebagai ideologi, maka Zabaza memiliki kesejajaran dengan ideologi komunisme. Kelemahan ideologi ini terletak pada sifatnya yang dogmatis. Bagaimanapun juga. sebuah ideologi selain punya dimensi edealisme, yakni kemampuannya memberikan harapan kepada berbagai kelompok atau golongan yang ada dalam masyarakat untuk mempunyai kehidupan bersama secara lebih baik dan untuk membangun suatu masa depan yang lebih cerah, ideologi haruslah memiliki dimensi fleksibilitas.yang terlalu dogmatis tidak memiliki fleksibilitas.
Ideologi yang terlalu dogmatis dan kaku sifatnya dapat dikatakan tidak memiliki dimensi fleksibilitas. Dengan demikian, ia tidak punya kemampuan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan dalam masyarakat, sehingga daya tahan ideologi tersebut berkurang ketika masyarakat berkembang ke arah yang sama sekali tidak "diperkirakan" sesuai dengan doktrin yang diyakini kebenarannya. Komunisme sebagai ideologi yang didasarkan pada Marxisme, merupakan ideologi yang terlalu dogmatis dan kaku. Komunisme tidak punya dimensi fleksibilitas untuk mengantisipasi perubahan dalam masyarakat. Sebagai contoh, hukum perkembangan masyarakat didasarkan dpada empat tahap, yakni komune primitif, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Padahal kondisi tiap-tiap negara tidak sama. Dengan demikian, setiap negara akan memiliki tahap perkembangan sendiri yang tidak selalu sesuai dengan tahap perkembangan masyarakat yang terdapat dalam pandangan Marxian. Karena sifat dogmatis ini, para penganut Marxis ortodok memandang kelompok lain yang mencoba menyesuaikan ajaran Marxisme dengan kondisi masyarakat akan dinilai sebagai revisionist.
Nama-nama tokoh lainnya, yakni Leonel, Chiko, Torzo, Golef, Combla, Krosy, Tirtir adalah nama-nama yang terkesan aneh dan tidak biasa dipergunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun demikian ada nama yang lazim, yaitu Erika.
Penggunaan nama-nama yuang terkesan aneh dapat di- interpretasikan bahwa realitas dalam novel tersebut tidak menunjuk secara langsung kepada realitas yang terdapat dalam sejarah Indonesia. Negara yang dikisahkan dalam novel Nyali tidak memiliki nama tertentu, sehingga seakan- akan latar tempat dalam novel Nyali bukan di Indonesia. Namun demikian peristiwa-peristiwa yang dikisahkan ter- utama konflik sosial dan politik dalam novel tersebut mempunyai kesejajaran dengan konflik sosial dan politik di Indonesia sekitar tahun 1965. Interpretasi lain adalah bahwa peristiwa dalam novel Nyali bersifat universal, artinya konflik politik seperti yang dikisahkan novel tersebut bisa terjadi di negara manapun di dunia.
Di berbagai negara di dunia sering terjadi konflik politik yang termanifestasikan dalam bentuk pembrontakan dan kudeta dalam menggulingkan rezim yang berkuasa dan menggantikan sistem pemerintahan dengan sistem yang baru. Konflik politik yang dikisahkan dalam novel Nyali juga memiliki kemiripan dengan penggulingan Presiden Alende di Chili tahun 1970-an yang menggunakan nama sandi "Jakarta Operation" dan disertai dengan pembantaian terhadap orang- orang komunis (People Front).
4.2. Peristiwa Simbolis
Peristiwa simbolis yang penulis bahas adalah tindakan atau perilaku tokoh. Perilaku atau tindakan tersebut ditafsirkan sebagai sebuah simbol tertentu.
Pada bagian akhir novel Nyali dikisahkan bahwa Kropos mengasingkan diri ke sebuah ladang yang sunyi. Di tempat itu ia bertemu dengan seorang perempuan. Mereka berinteraksi tanpa menggunakan komunikasi verbal, walaupun mereka tidak bisu sampai akhirnya mereka menjadi suami istri.
Kropos telah hidup sebagai suami-istri dengan wanita itu di tengah ladang. Setiap pagi ia mengantar bininya sampai ke sungai. Malam mereka duduk berdua mendengar suara-suara serangga malam. Tetapi keduanya masih juga belum membicarakan sesuatu. Berdampingan dengan bisu. (halaman 94)
Perilaku demikian adalah bentuk dehumanisasi. Hal ini merupakan perilaku yang tidak wajar; merupakan penyim- pangan perilaku manusia normal, sebab mereka tidak bisu dan tidak mengalami hambatan secara fisik maupun psiko- logis. Sebagai sebuah novel inkonvensional, terutama dalam hal tokoh-tokohnya yang aneh dan tindakannya yang aneh pula, perilaku demikian bisa dipandang sebagai sebuah simbol tertentu yang punya kaitan dengan sebuah sistem dalam kehidupan (realitas sosial) seperti dikatakan oleh Umar Junus Umar Junus. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan. Halalam 25.
dalam kaitannya dengan pandangan semiotik untuk menghubungkan sistem dalam karya dan sistem dalam kehidupan. Pandangan semiotik, menurut Umar Junus, bukan hanya dapat menghubungkan sistem dalam karya itu sendiri, tapi juga dengan sistem di luarnya dengan sistem dalam kehidupan.
Perilaku bisu ini bisa diinterpretasikan sebagai sebuah simbol sikap frustasi dan protes terhadap kondisi yang tidak dikehendaki walaupun protes tersebut tidak dialamatkan ke sebuah lembaga atau orang tertentu. Ke- putusasaan yang dialami Kropos merupakan akibat dari kekalahan gerombolan Zabaza dalam konflik politik segitiga antara gerombolan Zabaza, Jendral Leonel, dan Baginda Raja. Kekalahan total bagi gerombolan Zabaza mengakibatkan Kropos tersingkir dan terasing dalam kehidupan masyarakat yang diwarnai dengan laju pembangunan di segala bidang.
Kropos jadi merasa sunyi. Rasanya ibukota bukan dunianya lagi. Ia mengitari jalan kota, menemukan orang-orang yang makin hari makin asing. Sejak re- publik diproklamirkan menggantikan kerajaan, banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi. Semuanya merupakan kemajuan. Tetapi Kropos seperti tak ikut serta. Ia bercecer, atau ditinggalkan. Barangkali ia tidak mau ikut. Padahal ia merasa dirinya sudah berusaha untuk mengerti. (halaman 83)
Dalam keputusasaan Kropos berniat bunuh diri. Ia membaringkan tubuhnya di atas rel kereta api. Tapi tidak ada kereta yang menggilasnya karena ia berbaring di atas rel yang tidak terpakai. Ia tidak peduli kereta menggilasnya atau tidak. Kropos tak peduli dirinya sudah mati atau masih hidup. Ia menjadi tidak peduli terhadap sesuatu. Lalu ia meneruskan perjalanan dengan menempuh jalan se- sukanya.
Dengan basah kuyup, Kropos meneruskan perjalanan. Ia menempuh jalan sesukanya. Tidak berusaha untuk mencari jalan setapak. Ia maju saja dengan sembrono arah ke timur. Semak-semak diterobosnya. Parit-parit kecil dengan lumpur-lumpur diterjangnya saja. Duri-duri semak melukai kulitnya. Beberapa bagian bajunya robek. Ia tidak peduli. Kemudian ia bertemu dengan hamparan sawah. Ditempuhnya terus dengan cara yang sama. Tidak berusaha meniti di pematang, tapi ia memotong sawah-sawah yang masih ditumbuhi padi-padi kecil. Untung tak ada orang. (halaman 89)
Kemudian Kropos sampai di tepi sebuah kampung. Ia menyeberangi jalan. Masuk pekarangan rumah orang. Melompati pagar, berjalan di antara rumah-rumah. Beberapa orang memperhatikannya, tapi ia tidak peduli. Akhirnya ia tembus kampung itu dan menjumpai kembali sungai yang tadi. Kini sungai itu melebar. Di atasnya ada jembatan bambu. Kropos terus berjalan tanpa menghiraukan jembatan tersebut. Ia memanjat tepi dan memasuki sebuah rumah yang lain. Sebuah kampung yang lain. Semak-semak, pematang, pagar rumah orang, hutan kecil, lalu jalan kereta api kembali, kemudian sebuah tanah datar yang luas. (halaman 89)
Sikap tak peduli pada diri Kropos adalah sikap keputusasaan. Demikian halnya dengan sikap membisu antara dia dan istrinya di ladang yang sunyi. Hidup berdampingan sebagai suami-istri dengan bisu. Bahkan sikap tak peduli juga sering ditunjukkan kepada istrinya. Ketika istrinya memijit-mijit kakinya, Kropos tak peduli. Tatkala istrinya membawakan radio, Kropos menerimanya, tapi tidak berusaha membunyikannya. Selanjutnya radio itu selama berbulan- bulan tidak pernah dibunyikannya. Demikian pula ia tak pernah mengikuti wanita itu pergi.
Bila dikaitkan dengan realitas sosial, terutama dalam hubungannya dengan konflik politik yang terjadi sekitar tahun 1965, sikap frustasi yang dialami Kropos dan sisa- sisa Zabaza mempunyai kemiripan dengan nasib orang-orang PKI yang terkalahkan dalam konflik di tahun 1965. Nama Zabaza senantiasa dikaitkan sebagai kelompok yang menjadi biang kerusuhan dan pengkhianat negara, sehingga tak se- orang pun berani dituduh sebagai Zabaza.
Tak seorang pun yang berani dituduh sebagai Zabaza. Itu berarti memikul seluruh darah yang telah mengalir di kerajaan itu dulu yang kini telah menjadi sebuah republik. (halaman 82)
Meskipun Zabaza telah ditumpas, tapi sisa-sisa Zabaza selalu dicurigai. Bahkan ketika ada polemik politik dan demonstrasi, Zabaza dicurigai sebagai penggeraknya. Demikian juga dengan sisa-sisa anggota PKI merasa tersingkir dan terbuang dalam kehidupan Orde Baru yang diwarnai dengan laju pembangunan di segala bidang. Mereka yang selamat dari pembantaian atau keluar dari penjara atau tempat pembuangan merasa tersisih sebagai orang yang kalah. Apalagi sikap pemerintah yang senantiasa menghukum dengan cara deskreminasi dalam berbagai hal, seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kehidupan politik (tidak boleh mengikuti pemilu). Dalam keputusasaan dan penderitaannya sebagai warga negara yang tersisih, bukan berarti dalam pikiran mereka tidak pernah terlintas untuk memulai aktivitas yang sifatnya politis.
Pada akhir cerita dalam novel Nyali dikisahkan bahwa Kropos bermimpi menjadi Zabaza kembali, berjuang dalam rimba dan memimpin penyergapan. Lalu ketika ia terbangun ia menyadari telah dijemput dua puluh orang berpakaian hitam dan membawa senjata. Mereka mengajak Kropos untuk memulai lagi aktivitas seperti dulu. Kropos setuju.
Peristiwa tersebut merupakan simbol bagi munculnya bentuk-bentuk perlawanan dari sekelompok orang terhadap kondisi yang ada. Bentuk perlawanan tersebut tidak pernah hilang dalam masyarakat selama dalam masyarakat masih ada ketimpangan, walaupun kelompok perlawanan tersebut telah dihancurkan oleh penguasa. Demikian juga dengan peristiwa dalam novel Nyali. Meskipun Zabaza telah dihancurkan oleh tentara kerajaan, tetapi ketika dalam masyarakat terjadi konflik yang termanifestasikan dalam bentuk demonstrasi, polemik politik di media massa, ketidakberesan dalam proses pengadilan, maka sisa-sisa Zabaza membangun ke- kuatan untuk memulai lagi aktivitas perlawanan.
Apabila dihubungkan dengan realitas dalam masyarakat, peristiwa tersebut ada kemiripan dengan bangkitnya sisa-sisa PKI. Meskipun PKI sudah ditumpas, tetapi ada indikasi bahwa sisa-sisa anggota PKI berusaha untuk konsolidasi. Indikasi ini ditunjukkan dengan diadakannya Kritik Oto Kritik pada tahun 1986 oleh sisa-sisa PKI.kuan Basuki Resoboso, PKI pernah mengadakan Kritik Oto Kritik pada tahun 1968 dan 1986.
Demikan juga, ada indikasi bahwa sisa-sisa anggota PKI menyusup ke dalam organisasi massa, bahkan disinyalir mereka menyusup ke dalam kepengurusan PDIdaerah yang diduga terlibat PKI (Gatra, No. 9 tahun I, 14 Januari 1995 halaman 31).
BAB V
KESIMPULAN
Novel Nyali karya Putu Wijaya mengisahkan konflik sosial dan politik yang terjadi dalam sebuah negara. Konflik tersebut termanifestasi dalam bentuk pembrontakan yang dilakukan oleh gerombolan Zabaza dibawah pimpinan Kropos. Kondisi sosial dan politik dalam negara tersebut sangat potensial bagi munculnya konflik. Masyarakatnya terpolarisasi ke dalam kelompok-kelompok kepentingan, lembaga-lembaga, organisasi, dan kelas-kelas sosial yang tidak selalu memiliki kepentingan yang sama dan serasi. Kelompok-kelompok tersebut adalah Baginda Raja yang mewakili kelompok yang berkuasa, gerombolan Zabaza, dan Jendral Leonel yang sesungguhnya mewakili kelompok militer. Baginda Raja bertujuan untuk mempertahankan sistem politik yang sedang berlaku ; mempertahankan status quo. Jendral Leonel bertujuan merombak sistem yang berlaku atau dengan lain perkataan ia menghendaki terjadinya perubahan sosial, sedangkan gerombolan Zabaza mempunyai cita-cita untuk mengadakan revolusi kepribadian yang membuat setiap warga negara menjadi hamba kerajaan yang baik.
Ketiga kelompok tersebut terlibat dalam konflik politik dan dalam memperjuangkan dan atau mempertahankan kepentingan tersebut, pelaku konflik menggunakan cara kekerasan. Hal ini terjadi karena negara itu tidak punya sarana berupa konsensus atau konstitusi dalam mengatur konflik dan masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik tidak berusaha untuk mencapai konsensus dengan cara berunding secara damai untuk memperoleh penyelesaian yang menguntungkan semua pihak. Konsekwensinya adalah konflik ini memiliki struktur menang-kalah, yakni konflik yang berakhir dengan kemenangan salah satu pihak dan kekalahan pada pihak lain. Jendral Leonel merupakan pihak yang memenangkan konflik, sedangkan Zabaza dan Baginda Raja merupakan pihak yang kalah dalam konflik.
Konflik dalam negara yang dikisahkan novel Nyali dapat dikatakan konflik bertipe negatif, karena berakibat terancamnya eksistensi sistem sosial dan politik serta struktur masyarakat. Hal ini juga ditandai dengan cara- cara kekerasan oleh pihak yang bertikai, yakni pem- brontakan dan kudeta serta terorisme.
Bagaimanapun juga, konflik memiliki fungsi yang positif. Perubahan sosial menuju terwujudnya masyarakat yang lebih baik tidak jarang melalui sebuah konflik ter- lebih dahulu. Terbentuknya negara-negara baru sering diakibatkan oleh perang yang merupakan salah satu bentuk konflik politik yang utama. Dalam novel Nyali ditunjukkan bahwa konflik menyebabkan perubahan sosial dan politik yang lebih baik. Masyarakat lama yang penuh dengan pembrontakan dan sengketa yang berkepanjangan diakhiri dan sejak saat itu dimulai era baru yang memungkinkan peru- bahan sosial dan perubahan pada sistem pemerintahan serta kebijakan pembangunan ekonomi, walaupun konflik tersebut tidak bisa dihilangkan sama sekali. Konflik pada hakekatnya merupakan fenomena yang selalu hadir dalam masyarakat, bahkan pada masyarakat yang paling stabil. Dalam Nyali juga ditunjukkan bahwa konflik pada masa silam (masa kerajaan) menjadi salah satu faktor timbulnya konflik pada era yang baru (masa pemerintahan republik).
Konflik politik dalam novel Nyali mempunyai keseja- jaran dengan konflik sosial dan politik dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam beberapa hal terdapat kemiripan antara konflik politik dalam Nyali dengan kenyataan dalam sejarah Indonesia. Periode sejarah negara yang dikisahkan oleh Nyali mempunyai kesamaan dengan periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam Nyali terdapat dua periode sejarah, yakni masa kerajaan atau bisa disebut Monarkhi dan masa republik. Ciri-ciri yang ditunjukkan kedua masa tersebut memang tidak digambarkan secara lengkap, akan tetapi dalam beberapa bagian selalu disebutkan secara eksplisit bahwa masa itu adalah masa kerajaan dengan Raja sebagai kepala negara. Masa republik ditandai oleh ciri yang utama, yakni kepala negara adalah seorang presiden. Kondisi sosial politik pada masa kerajaan penuh dengan pertentangan-pertentangan politik dan ideologis. Puncak dari konflik politik tersebut adalah peristiwa pembrontakan atau kudeta yang dilakukan oleh gerombolan Zabaza. Kudeta berhasil digagalkan oleh tentara kerajaan, akan tetapi Baginda Raja sekeluarga terbunuh. Hal ini memberikan peluang bagi Jendral Leonel untuk mengambil alih kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai kepala negara serta mengubah sistem pemerintahan. Dengan kata lain pembrontakan atau kudeta tersebut menjadi akhir bagi masa monarkhi dan awal dari kelahiran masa baru yang berbentuk republik.
Hal ini mempunyai kemiripan atau kesejajaran dengan periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam sejarah Indonesia terdapat dua masa, yaitu orde Lama dan Orde Baru. Kondisi Orde Lama ditandai dengan konflik, pertentangan politik antar partai atau kelompok-kelompok yang memiliki tujuan dan ideologi yang berbeda. Puncak dari konflik tersebut adalah meletusnya peristiwa Gestapu atau pembrontakan G-30-S/PKI. Kudeta atau pembrontakan yang berhasil digagalkan oleh Angkatan Darat tersebut merupakan penutup bagi Orde Lama dan kelahiran Orde Baru.
Kesejajaran juga ditunjukkan oleh terdapatnya kekuat- an politik dominan. Dalam Nyali terdapat tiga kekuatan politik dominan yaitu Baginda Raja, Jendral Leonel (tentara), dan gerombolan Zabaza. Dalam masa Orde Lama, terutama pada waktu Demokrasi Terpimpin juga terdapat tiga kekuatan politik yang memainkan peranan besar dalam panggung politik. Kekuatan politik tersebut adalah Presiden Sukarno, Militer (Angkatan Darat), dan PKI. Ketiga kekuat- an politik dominan ini terlibat dalam konflik.
Novel Nyali mengandung simbol-simbol yang memiliki keterpaduan dengan konflik sosial dan politik yang menjadi tema novel ini. Simbol-simbol tersebut juga memperkuat kesejajaran antara konflik sosial dan politik dalam novel Nyali dan konflik sosial dan politik dalam sejarah Indonesia. Makna simbolis dari nama tokoh utama, yakni Kropos, memiliki korelasi dengan watak ideologi gerombolan Zabaza. Jika Kropos dipandang sebagai personifikasi gerombolan Zabaza dan Zabaza dipandang sebagai sebuah ideologi, maka sesuai dengan makna simbolis nama Kropos, ideologi Zabaza dalam beberapa hal mempunyai sedikit kemiripan dengan komunisme. Demikian juga dengan keterasingan dan keputusasaan Kropos setelah ia mengalami kekalahan dalam konflik, secara simbolis memiliki kesejajaran dengan nasib sisa-sisa anggota PKI pada masa Orde Baru yang tersingkir dalam beberapa hal. Meskipun tersingkir dan tertindas, sisa-sisa gerombolan Zabaza berusaha untuk bangkit kembali. Hal ini pun memiliki kesejajaran dengan upaya bangkitnya sisa-sisa PKI dewasa ini.
ASPEK SIMBOLIS DALAM NOVEL NYALI
Webster mengatakan bahwa simbol adalah sesuatu yang merujuk atau mengingatkan pada sesuatu yang lain karena alasan hubungan, asosiasi, konvensi atau kebetulan, tapi bukan sesuatu yang menyerupai; khususnya sebuah tanda yang menampakkan sesuatu yang tidak nampak, seperti ide, kualitas atau totalitas, misalnya negara atau gereja.337.
Kata simbol dan tanda (sign) secara umum bisa dipertukarkan, seperti dikatakan oleh William York Tindall:
Kata simbol dan tanda secara umum bisa dipertukarkan. Pada saat tertentu satu benda diartikan oleh tanda dan pada saat yang lain diartikan oleh simbol. Oleh sebab itu tanda memiliki arti referensi eksak, termasuk simbol, dan simbol mengandung arti sarana sugestif, termasuk tanda.ibid. hal 337.
Namun demikian kata simbol dan tanda memiliki perbedaan. Menurut William York Tindall, jika kita mengartikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah rujukan eksak, hal ini berarti menyangkut simbol, karena simbol adalah sebuah rujukan eksak juga. Perbedaannya terlihat bahwa sebuah tanda (sign) adalah sebuah rujukan eksak kepada sesuatu yang definitif dan simbol merupakan rujukan eksak kepada sesuatu yang indefinitif. ibid. hal 350.
Dalam hal hubungan korenpondensi, kata tanda adalah korespondensi satu-satu. Contoh: bendera Amerika adalah tanda United States yang digunakan untuk mengenali kantor pos, kantor pajak pendapatan, dan kapal. ibid. hal 337.
Sedangkan korespondensi simbolis tidak pernah satu-satu, tapi selalu banyak dan orang yang berbeda akan menangkap arti yang berbeda pula. ibid. hal 350.
Karya seni termasuk karya sastra adalah bentuk sim- bolis, sejajar dengan agama atau ilmu. Namun demikian bentuk-bentuk simbol ini selain memiliki persamaan, juga mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam kaitan ini William York Tindall mengatakan:
Bentuk-bentuk ini dibangun oleh semesta yang memungkinkan orang untuk menafsirkan dan mengenali peng- alamannya; dan sebuah penemuan realitas, karena sebuah bentuk-bentuk simbolis tersebut merupakan kreasi. Meskipun mirip dalam hal fungsi, bentuk- bentuk simbol ini berbeda dalam hal jenis realitas yang membangunnya. Ilmu dibangun oleh fakta-fakta , seni dibangun dengan perasaan, intuisi dan segi kehidupan lainnya. ibid. hal 337.
Menurut Langer Via William York Tindall. ibid. hal 338.
, seni berbeda dengan bentuk simbol yang lain dalam hal bahan dan sesuatu yang disimbolkan. Sebagaimana musik menggunakan suara, lukisan menggunakan warna, patung menggunakan pahatan, dan sastra menggunakan kata untuk menciptakan citraan tentang waktu, ruang atau gelora perasaan.
Novel merupakan bentuk simbolis dan dalam novel juga terkandung simbol-simbol yang merupakan kreasi dari pengarangnya. Menurut Ursula BrummFree Press. halaman 356.
, pengujian secara historis menunjukkan bahwa opini yang ada sekarang ini tidak dapat dibenarkan, yakni simbolisme dikembangkan oleh penulis-penulis modern, bukan kebutuhan kondisi sastra, atau bukan semua novel yang mengandung simbol. Novel besar abad sembilan belas bukan produk dari kerja imajinasi dalam bentuk-bentuk simbolis. Ini adalah representasi kehidupan, tapi bukan sebuah representasi simbolis.
Pada bagian ini penulis menguraikan aspek simbolis dalam novel Nyali yang diintrepretasikan secara sosio- logis. Hal ini dimaksudkan sebagai kelengkapan analisis sosiologis yang tidak sekedar bersifat historis. Simbol- simbol tersebut menyangkut pada penggunaan nama-nama dan peristiwa-peristiwa simbolis.
4.1. Penggunaan Nama
Nama-nama yang terdapat dalam novel Nyali boleh dikatakan memiliki keanehan, baik nama diri (nama tokoh) dan nama tempat. Nama-nama tersebut ada yang memiliki arti tertentu, namun sebagian besar terkesan bukan nama yang lazim dipergunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.
Tokoh utama dalam novel ini menggunakan nama Kropos. Penggunaan nama ini masih mempunyai arti tertentu. Dalam bahasa Jawa istilah "kropos" berarti sebuah benda yang kulit luarnya nampak baik, tetapi isinya rapuh seperti kayu yang bagian luarnya nampak baik tetapi bagian dalamnya rapuh karena dimakan rayap. Penggunaan nama Kropos ini kontradiktif dengan watak tokoh Kropos. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab dua, Kropos memiliki dimensi watak yang keras, teguh, tabah dalam menjalani berbagai ujian berat dan tahan dalam segala bentuk siksaan dan penderitaan. Ia tidak mudah putus asa walaupun tugas yang ia emban sangat berat dan hampir bisa dikatakan mustahil. Keadaan yang kontradiktif antara arti nama dan watak tokoh utama dalam novel ini mengandung makna dialektis, artinya meskipun seseorang memiliki watak yang keras, tabah, tangguh, dan berdisiplin tinggi, namun sesungguhnya dalam diri seseorang juga terdapat potensi sifat-sifat yang negatif. Seperti halnya mata uang yang memiliki dua muka, pada sisi Kropos mempunyai sifat-sifat yang keras, tabah dalam menghadapi segala pengujian yang berat, dan merupakan pemimpin yang punya disiplin baja, namun pada sisi lain terdapat potensi sifat-sifat yang negatif. Munculnya sifat-sifat yang berlawanan tersebut tergantung dari situasi dan kondisi yang melingkupinya. Ketika Kropos berada dalam lingkungan yang keras dan menuntut ketabahan fisik dan mental, watak Kropos yang positif muncul dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, tatkala gerombolan Zabaza berhasil ditumpas oleh tentara kerajaan, watak Kropos mengalami kemunduran. Ia menjadi putus asa. Kropos mengasingkan diri dari kehidupan ramai dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.ketika ia ditangkap Belanda, justru ia sangat ketakutan dan gugup.
Dengan kata lain sifat rapuh pada diri Kropos menjadi aktual ketika ia berada dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan keputusasaan.
Makna simbolis dari nama ini sesungguhnya memiliki kesejajaran dengan realitas sejarah. Bila Kropos dipandang sebagai personifikasi gerombolan Zabaza dan Zabaza dipandang sebagai sebuah ideologitahu, Zabaza bukan orang, tetapi semacam ideologi...."
, maka hal ini dapat diinterpretasikan bahwa meskipun ideologi memiliki karakteristik yang efektif dan tangguh, tetapi sesungguhnya ia juga memiliki kelemahan. Dalam konteks novel Nyali, ideologi Zabaza sesungguhnya memiliki kelemahan. kelemahannya terletak pada sifatnya yang dogmatis dan doktriner. Sifat ini sangat dipatuhi oleh anggotanya dan telah mendarah daging, sehingga mereka tidak punya pilihan lain dan tidak ada upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam masyarakat. Hal ini terlihat dari tiadanya dimensi fleksibelitas dalam Zabaza.
Sebagaimana telah penulis sebutkan pada bab terdahulu, dalam beberapa hal Zabaza memiliki kesejajaran dengan PKI. Apabila Zabaza dipandang sebagai ideologi, maka Zabaza memiliki kesejajaran dengan ideologi komunisme. Kelemahan ideologi ini terletak pada sifatnya yang dogmatis. Bagaimanapun juga. sebuah ideologi selain punya dimensi edealisme, yakni kemampuannya memberikan harapan kepada berbagai kelompok atau golongan yang ada dalam masyarakat untuk mempunyai kehidupan bersama secara lebih baik dan untuk membangun suatu masa depan yang lebih cerah, ideologi haruslah memiliki dimensi fleksibilitas.yang terlalu dogmatis tidak memiliki fleksibilitas.
Ideologi yang terlalu dogmatis dan kaku sifatnya dapat dikatakan tidak memiliki dimensi fleksibilitas. Dengan demikian, ia tidak punya kemampuan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan dalam masyarakat, sehingga daya tahan ideologi tersebut berkurang ketika masyarakat berkembang ke arah yang sama sekali tidak "diperkirakan" sesuai dengan doktrin yang diyakini kebenarannya. Komunisme sebagai ideologi yang didasarkan pada Marxisme, merupakan ideologi yang terlalu dogmatis dan kaku. Komunisme tidak punya dimensi fleksibilitas untuk mengantisipasi perubahan dalam masyarakat. Sebagai contoh, hukum perkembangan masyarakat didasarkan dpada empat tahap, yakni komune primitif, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Padahal kondisi tiap-tiap negara tidak sama. Dengan demikian, setiap negara akan memiliki tahap perkembangan sendiri yang tidak selalu sesuai dengan tahap perkembangan masyarakat yang terdapat dalam pandangan Marxian. Karena sifat dogmatis ini, para penganut Marxis ortodok memandang kelompok lain yang mencoba menyesuaikan ajaran Marxisme dengan kondisi masyarakat akan dinilai sebagai revisionist.
Nama-nama tokoh lainnya, yakni Leonel, Chiko, Torzo, Golef, Combla, Krosy, Tirtir adalah nama-nama yang terkesan aneh dan tidak biasa dipergunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun demikian ada nama yang lazim, yaitu Erika.
Penggunaan nama-nama yuang terkesan aneh dapat di- interpretasikan bahwa realitas dalam novel tersebut tidak menunjuk secara langsung kepada realitas yang terdapat dalam sejarah Indonesia. Negara yang dikisahkan dalam novel Nyali tidak memiliki nama tertentu, sehingga seakan- akan latar tempat dalam novel Nyali bukan di Indonesia. Namun demikian peristiwa-peristiwa yang dikisahkan ter- utama konflik sosial dan politik dalam novel tersebut mempunyai kesejajaran dengan konflik sosial dan politik di Indonesia sekitar tahun 1965. Interpretasi lain adalah bahwa peristiwa dalam novel Nyali bersifat universal, artinya konflik politik seperti yang dikisahkan novel tersebut bisa terjadi di negara manapun di dunia.
Di berbagai negara di dunia sering terjadi konflik politik yang termanifestasikan dalam bentuk pembrontakan dan kudeta dalam menggulingkan rezim yang berkuasa dan menggantikan sistem pemerintahan dengan sistem yang baru. Konflik politik yang dikisahkan dalam novel Nyali juga memiliki kemiripan dengan penggulingan Presiden Alende di Chili tahun 1970-an yang menggunakan nama sandi "Jakarta Operation" dan disertai dengan pembantaian terhadap orang- orang komunis (People Front).
4.2. Peristiwa Simbolis
Peristiwa simbolis yang penulis bahas adalah tindakan atau perilaku tokoh. Perilaku atau tindakan tersebut ditafsirkan sebagai sebuah simbol tertentu.
Pada bagian akhir novel Nyali dikisahkan bahwa Kropos mengasingkan diri ke sebuah ladang yang sunyi. Di tempat itu ia bertemu dengan seorang perempuan. Mereka berinteraksi tanpa menggunakan komunikasi verbal, walaupun mereka tidak bisu sampai akhirnya mereka menjadi suami istri.
Kropos telah hidup sebagai suami-istri dengan wanita itu di tengah ladang. Setiap pagi ia mengantar bininya sampai ke sungai. Malam mereka duduk berdua mendengar suara-suara serangga malam. Tetapi keduanya masih juga belum membicarakan sesuatu. Berdampingan dengan bisu. (halaman 94)
Perilaku demikian adalah bentuk dehumanisasi. Hal ini merupakan perilaku yang tidak wajar; merupakan penyim- pangan perilaku manusia normal, sebab mereka tidak bisu dan tidak mengalami hambatan secara fisik maupun psiko- logis. Sebagai sebuah novel inkonvensional, terutama dalam hal tokoh-tokohnya yang aneh dan tindakannya yang aneh pula, perilaku demikian bisa dipandang sebagai sebuah simbol tertentu yang punya kaitan dengan sebuah sistem dalam kehidupan (realitas sosial) seperti dikatakan oleh Umar Junus Umar Junus. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan. Halalam 25.
dalam kaitannya dengan pandangan semiotik untuk menghubungkan sistem dalam karya dan sistem dalam kehidupan. Pandangan semiotik, menurut Umar Junus, bukan hanya dapat menghubungkan sistem dalam karya itu sendiri, tapi juga dengan sistem di luarnya dengan sistem dalam kehidupan.
Perilaku bisu ini bisa diinterpretasikan sebagai sebuah simbol sikap frustasi dan protes terhadap kondisi yang tidak dikehendaki walaupun protes tersebut tidak dialamatkan ke sebuah lembaga atau orang tertentu. Ke- putusasaan yang dialami Kropos merupakan akibat dari kekalahan gerombolan Zabaza dalam konflik politik segitiga antara gerombolan Zabaza, Jendral Leonel, dan Baginda Raja. Kekalahan total bagi gerombolan Zabaza mengakibatkan Kropos tersingkir dan terasing dalam kehidupan masyarakat yang diwarnai dengan laju pembangunan di segala bidang.
Kropos jadi merasa sunyi. Rasanya ibukota bukan dunianya lagi. Ia mengitari jalan kota, menemukan orang-orang yang makin hari makin asing. Sejak re- publik diproklamirkan menggantikan kerajaan, banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi. Semuanya merupakan kemajuan. Tetapi Kropos seperti tak ikut serta. Ia bercecer, atau ditinggalkan. Barangkali ia tidak mau ikut. Padahal ia merasa dirinya sudah berusaha untuk mengerti. (halaman 83)
Dalam keputusasaan Kropos berniat bunuh diri. Ia membaringkan tubuhnya di atas rel kereta api. Tapi tidak ada kereta yang menggilasnya karena ia berbaring di atas rel yang tidak terpakai. Ia tidak peduli kereta menggilasnya atau tidak. Kropos tak peduli dirinya sudah mati atau masih hidup. Ia menjadi tidak peduli terhadap sesuatu. Lalu ia meneruskan perjalanan dengan menempuh jalan se- sukanya.
Dengan basah kuyup, Kropos meneruskan perjalanan. Ia menempuh jalan sesukanya. Tidak berusaha untuk mencari jalan setapak. Ia maju saja dengan sembrono arah ke timur. Semak-semak diterobosnya. Parit-parit kecil dengan lumpur-lumpur diterjangnya saja. Duri-duri semak melukai kulitnya. Beberapa bagian bajunya robek. Ia tidak peduli. Kemudian ia bertemu dengan hamparan sawah. Ditempuhnya terus dengan cara yang sama. Tidak berusaha meniti di pematang, tapi ia memotong sawah-sawah yang masih ditumbuhi padi-padi kecil. Untung tak ada orang. (halaman 89)
Kemudian Kropos sampai di tepi sebuah kampung. Ia menyeberangi jalan. Masuk pekarangan rumah orang. Melompati pagar, berjalan di antara rumah-rumah. Beberapa orang memperhatikannya, tapi ia tidak peduli. Akhirnya ia tembus kampung itu dan menjumpai kembali sungai yang tadi. Kini sungai itu melebar. Di atasnya ada jembatan bambu. Kropos terus berjalan tanpa menghiraukan jembatan tersebut. Ia memanjat tepi dan memasuki sebuah rumah yang lain. Sebuah kampung yang lain. Semak-semak, pematang, pagar rumah orang, hutan kecil, lalu jalan kereta api kembali, kemudian sebuah tanah datar yang luas. (halaman 89)
Sikap tak peduli pada diri Kropos adalah sikap keputusasaan. Demikian halnya dengan sikap membisu antara dia dan istrinya di ladang yang sunyi. Hidup berdampingan sebagai suami-istri dengan bisu. Bahkan sikap tak peduli juga sering ditunjukkan kepada istrinya. Ketika istrinya memijit-mijit kakinya, Kropos tak peduli. Tatkala istrinya membawakan radio, Kropos menerimanya, tapi tidak berusaha membunyikannya. Selanjutnya radio itu selama berbulan- bulan tidak pernah dibunyikannya. Demikian pula ia tak pernah mengikuti wanita itu pergi.
Bila dikaitkan dengan realitas sosial, terutama dalam hubungannya dengan konflik politik yang terjadi sekitar tahun 1965, sikap frustasi yang dialami Kropos dan sisa- sisa Zabaza mempunyai kemiripan dengan nasib orang-orang PKI yang terkalahkan dalam konflik di tahun 1965. Nama Zabaza senantiasa dikaitkan sebagai kelompok yang menjadi biang kerusuhan dan pengkhianat negara, sehingga tak se- orang pun berani dituduh sebagai Zabaza.
Tak seorang pun yang berani dituduh sebagai Zabaza. Itu berarti memikul seluruh darah yang telah mengalir di kerajaan itu dulu yang kini telah menjadi sebuah republik. (halaman 82)
Meskipun Zabaza telah ditumpas, tapi sisa-sisa Zabaza selalu dicurigai. Bahkan ketika ada polemik politik dan demonstrasi, Zabaza dicurigai sebagai penggeraknya. Demikian juga dengan sisa-sisa anggota PKI merasa tersingkir dan terbuang dalam kehidupan Orde Baru yang diwarnai dengan laju pembangunan di segala bidang. Mereka yang selamat dari pembantaian atau keluar dari penjara atau tempat pembuangan merasa tersisih sebagai orang yang kalah. Apalagi sikap pemerintah yang senantiasa menghukum dengan cara deskreminasi dalam berbagai hal, seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kehidupan politik (tidak boleh mengikuti pemilu). Dalam keputusasaan dan penderitaannya sebagai warga negara yang tersisih, bukan berarti dalam pikiran mereka tidak pernah terlintas untuk memulai aktivitas yang sifatnya politis.
Pada akhir cerita dalam novel Nyali dikisahkan bahwa Kropos bermimpi menjadi Zabaza kembali, berjuang dalam rimba dan memimpin penyergapan. Lalu ketika ia terbangun ia menyadari telah dijemput dua puluh orang berpakaian hitam dan membawa senjata. Mereka mengajak Kropos untuk memulai lagi aktivitas seperti dulu. Kropos setuju.
Peristiwa tersebut merupakan simbol bagi munculnya bentuk-bentuk perlawanan dari sekelompok orang terhadap kondisi yang ada. Bentuk perlawanan tersebut tidak pernah hilang dalam masyarakat selama dalam masyarakat masih ada ketimpangan, walaupun kelompok perlawanan tersebut telah dihancurkan oleh penguasa. Demikian juga dengan peristiwa dalam novel Nyali. Meskipun Zabaza telah dihancurkan oleh tentara kerajaan, tetapi ketika dalam masyarakat terjadi konflik yang termanifestasikan dalam bentuk demonstrasi, polemik politik di media massa, ketidakberesan dalam proses pengadilan, maka sisa-sisa Zabaza membangun ke- kuatan untuk memulai lagi aktivitas perlawanan.
Apabila dihubungkan dengan realitas dalam masyarakat, peristiwa tersebut ada kemiripan dengan bangkitnya sisa-sisa PKI. Meskipun PKI sudah ditumpas, tetapi ada indikasi bahwa sisa-sisa anggota PKI berusaha untuk konsolidasi. Indikasi ini ditunjukkan dengan diadakannya Kritik Oto Kritik pada tahun 1986 oleh sisa-sisa PKI.kuan Basuki Resoboso, PKI pernah mengadakan Kritik Oto Kritik pada tahun 1968 dan 1986.
Demikan juga, ada indikasi bahwa sisa-sisa anggota PKI menyusup ke dalam organisasi massa, bahkan disinyalir mereka menyusup ke dalam kepengurusan PDIdaerah yang diduga terlibat PKI (Gatra, No. 9 tahun I, 14 Januari 1995 halaman 31).
BAB V
KESIMPULAN
Novel Nyali karya Putu Wijaya mengisahkan konflik sosial dan politik yang terjadi dalam sebuah negara. Konflik tersebut termanifestasi dalam bentuk pembrontakan yang dilakukan oleh gerombolan Zabaza dibawah pimpinan Kropos. Kondisi sosial dan politik dalam negara tersebut sangat potensial bagi munculnya konflik. Masyarakatnya terpolarisasi ke dalam kelompok-kelompok kepentingan, lembaga-lembaga, organisasi, dan kelas-kelas sosial yang tidak selalu memiliki kepentingan yang sama dan serasi. Kelompok-kelompok tersebut adalah Baginda Raja yang mewakili kelompok yang berkuasa, gerombolan Zabaza, dan Jendral Leonel yang sesungguhnya mewakili kelompok militer. Baginda Raja bertujuan untuk mempertahankan sistem politik yang sedang berlaku ; mempertahankan status quo. Jendral Leonel bertujuan merombak sistem yang berlaku atau dengan lain perkataan ia menghendaki terjadinya perubahan sosial, sedangkan gerombolan Zabaza mempunyai cita-cita untuk mengadakan revolusi kepribadian yang membuat setiap warga negara menjadi hamba kerajaan yang baik.
Ketiga kelompok tersebut terlibat dalam konflik politik dan dalam memperjuangkan dan atau mempertahankan kepentingan tersebut, pelaku konflik menggunakan cara kekerasan. Hal ini terjadi karena negara itu tidak punya sarana berupa konsensus atau konstitusi dalam mengatur konflik dan masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik tidak berusaha untuk mencapai konsensus dengan cara berunding secara damai untuk memperoleh penyelesaian yang menguntungkan semua pihak. Konsekwensinya adalah konflik ini memiliki struktur menang-kalah, yakni konflik yang berakhir dengan kemenangan salah satu pihak dan kekalahan pada pihak lain. Jendral Leonel merupakan pihak yang memenangkan konflik, sedangkan Zabaza dan Baginda Raja merupakan pihak yang kalah dalam konflik.
Konflik dalam negara yang dikisahkan novel Nyali dapat dikatakan konflik bertipe negatif, karena berakibat terancamnya eksistensi sistem sosial dan politik serta struktur masyarakat. Hal ini juga ditandai dengan cara- cara kekerasan oleh pihak yang bertikai, yakni pem- brontakan dan kudeta serta terorisme.
Bagaimanapun juga, konflik memiliki fungsi yang positif. Perubahan sosial menuju terwujudnya masyarakat yang lebih baik tidak jarang melalui sebuah konflik ter- lebih dahulu. Terbentuknya negara-negara baru sering diakibatkan oleh perang yang merupakan salah satu bentuk konflik politik yang utama. Dalam novel Nyali ditunjukkan bahwa konflik menyebabkan perubahan sosial dan politik yang lebih baik. Masyarakat lama yang penuh dengan pembrontakan dan sengketa yang berkepanjangan diakhiri dan sejak saat itu dimulai era baru yang memungkinkan peru- bahan sosial dan perubahan pada sistem pemerintahan serta kebijakan pembangunan ekonomi, walaupun konflik tersebut tidak bisa dihilangkan sama sekali. Konflik pada hakekatnya merupakan fenomena yang selalu hadir dalam masyarakat, bahkan pada masyarakat yang paling stabil. Dalam Nyali juga ditunjukkan bahwa konflik pada masa silam (masa kerajaan) menjadi salah satu faktor timbulnya konflik pada era yang baru (masa pemerintahan republik).
Konflik politik dalam novel Nyali mempunyai keseja- jaran dengan konflik sosial dan politik dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam beberapa hal terdapat kemiripan antara konflik politik dalam Nyali dengan kenyataan dalam sejarah Indonesia. Periode sejarah negara yang dikisahkan oleh Nyali mempunyai kesamaan dengan periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam Nyali terdapat dua periode sejarah, yakni masa kerajaan atau bisa disebut Monarkhi dan masa republik. Ciri-ciri yang ditunjukkan kedua masa tersebut memang tidak digambarkan secara lengkap, akan tetapi dalam beberapa bagian selalu disebutkan secara eksplisit bahwa masa itu adalah masa kerajaan dengan Raja sebagai kepala negara. Masa republik ditandai oleh ciri yang utama, yakni kepala negara adalah seorang presiden. Kondisi sosial politik pada masa kerajaan penuh dengan pertentangan-pertentangan politik dan ideologis. Puncak dari konflik politik tersebut adalah peristiwa pembrontakan atau kudeta yang dilakukan oleh gerombolan Zabaza. Kudeta berhasil digagalkan oleh tentara kerajaan, akan tetapi Baginda Raja sekeluarga terbunuh. Hal ini memberikan peluang bagi Jendral Leonel untuk mengambil alih kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai kepala negara serta mengubah sistem pemerintahan. Dengan kata lain pembrontakan atau kudeta tersebut menjadi akhir bagi masa monarkhi dan awal dari kelahiran masa baru yang berbentuk republik.
Hal ini mempunyai kemiripan atau kesejajaran dengan periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Dalam sejarah Indonesia terdapat dua masa, yaitu orde Lama dan Orde Baru. Kondisi Orde Lama ditandai dengan konflik, pertentangan politik antar partai atau kelompok-kelompok yang memiliki tujuan dan ideologi yang berbeda. Puncak dari konflik tersebut adalah meletusnya peristiwa Gestapu atau pembrontakan G-30-S/PKI. Kudeta atau pembrontakan yang berhasil digagalkan oleh Angkatan Darat tersebut merupakan penutup bagi Orde Lama dan kelahiran Orde Baru.
Kesejajaran juga ditunjukkan oleh terdapatnya kekuat- an politik dominan. Dalam Nyali terdapat tiga kekuatan politik dominan yaitu Baginda Raja, Jendral Leonel (tentara), dan gerombolan Zabaza. Dalam masa Orde Lama, terutama pada waktu Demokrasi Terpimpin juga terdapat tiga kekuatan politik yang memainkan peranan besar dalam panggung politik. Kekuatan politik tersebut adalah Presiden Sukarno, Militer (Angkatan Darat), dan PKI. Ketiga kekuat- an politik dominan ini terlibat dalam konflik.
Novel Nyali mengandung simbol-simbol yang memiliki keterpaduan dengan konflik sosial dan politik yang menjadi tema novel ini. Simbol-simbol tersebut juga memperkuat kesejajaran antara konflik sosial dan politik dalam novel Nyali dan konflik sosial dan politik dalam sejarah Indonesia. Makna simbolis dari nama tokoh utama, yakni Kropos, memiliki korelasi dengan watak ideologi gerombolan Zabaza. Jika Kropos dipandang sebagai personifikasi gerombolan Zabaza dan Zabaza dipandang sebagai sebuah ideologi, maka sesuai dengan makna simbolis nama Kropos, ideologi Zabaza dalam beberapa hal mempunyai sedikit kemiripan dengan komunisme. Demikian juga dengan keterasingan dan keputusasaan Kropos setelah ia mengalami kekalahan dalam konflik, secara simbolis memiliki kesejajaran dengan nasib sisa-sisa anggota PKI pada masa Orde Baru yang tersingkir dalam beberapa hal. Meskipun tersingkir dan tertindas, sisa-sisa gerombolan Zabaza berusaha untuk bangkit kembali. Hal ini pun memiliki kesejajaran dengan upaya bangkitnya sisa-sisa PKI dewasa ini.
BAB 3
BAB III
NOVEL NYALI DAN REALITAS SOSIAL
Dalam bab ini penulis membahas kaitan antara sastra dan realitas sosial . Seperti yang telah disebutkan pada bab pendahuluan bahwa karya sastra mencerminkan kenyataan sosial. Demikian halnya dengan novel Nyali. Dalam konteks ini penulis membuktikan adanya kesejajaran antara konflik sosial dan politik dalam novel Nyali dengan konflik sosial dan politik pada kurun sejarah tersebut. Namun demikian, sebagai sebuah karya kreatif kesejajaran tersebut bukan sebagai menjiplak realitas sejarah. Karya sastra memilih bahan yang terdapat dalam masyarakat (termasuk realitas sejarah), mengolahnya dengan dipadu oleh imajinasi pengarang, sehingga realitas dalam novel Nyali dengan realitas dalam sejarah masyarakat Indonesia tidak sama persis.
Kesejajaran antara novel Nyali dengan kenyataan sejarah masyarakat Indonesia pada masa Orde Lama dan sekitar kelahiran Orde Baru ditekankan pada konflik sosial dan politik yang terjadi pada kurun waktu sejarah tersebut. Kesejajaran ini bukan berarti sama persis, akan tetapi hanya pada beberapa bagian dari sejarah tersebut mempunyai kesamaan dengan konflik sosial dan politik yang tercermin dalam novel Nyali. Kesejajaran tersebut menyangkut periode sejarah, kondisi sosial dan politik yang mengakibatkan timbulnya konflik, kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam konflik, serta konflik dan perubahan sosial-politik. Kurun waktu sejarah yang relevan dengan permasalahan ini adalah pada masa menjelang dan kurun waktu Demokrasi Terpimpinlagi sebagai ideologi melainkan wujud dari pimpinan yang berupa pribadi seorang pemimpin (Gazali, dkk. 1989:100).
, yakni mulai tahun 1957 sampai dengan 1965, peristiwa G-30-S/PKI dan masa kelahiran Orde Baru.
3.1.. Periode Sejarah
Seperti yang telah penulis bahas pada bab sebelumnya bahwa negara yang dikisahkan dalam novel Nyali memiliki dua periode sejarah, yakni pada masa monarkhi dan masa republik. Pada masa monarkhi (Orde Lama)sejarah.
negara (kerajaan) senantiasa diwarnai oleh konflik sosial dan politik yang tajam yang mencapai puncaknya pada peristiwa pem- brontakan atau kudeta. Kudeta dan pembersihan terhadap gerombolan yang dianggap bertanggungjawab terhadap tin- dakan itu serta tampilnya tentara (Jendral Leonel) telah mengantarkan negara itu kepada zaman baru, yakni masa republik (Orde Baru). Pada masa Orde Baru muncul konflik politik yang termanifestasi dalam bentuk demonstrasi- demonstrasi yang menggugat kebijakan pemerintahan Jendral Leonel dan menuntut rekonstruksi peristiwa berdarah pada masa lalu. Demonstrasi-demonstrasi ini diduga didalangi oleh Zabaza baru. Dalam situasi yang penuh konflik, sisa- sisa gerombolan Zabaza mengkonsolidasikan diri dan memulai aktivitasnya seperti pasa masa Orde Lama (masa kerajaan).
Hal ini mempunyai kesejajaran dengan periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, yakni Orde Lama dan Orde Baru. Pada masa Orde Lama, Indonesia terus menerus dihadapkan pada konflik sosial dan politik yang mencapai puncaknya pada tahun 1965 dengan meletusnya Gestapu atau G-30-S/PKI. Kudeta dan tampilnya militer (Angkatan Darat) yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto dalam menumpas pim- pinan, kader-kader, dan anggota PKI beserta organisasi- organisasi yang berafiliasi dengannya telah mengantarkan Indonesia memasuki masa baru yang dinamakan Orde Baru. Pada masa Orde Baru ini muncul konflik baru yang termanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes beberapa kebijakan pemerintahan Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuhan, pendekatan keamanan, dan hak azasi manusia. Dalam beberapa kasus, ketika muncul aksi protes, pemerintah sering melontarkan tuduhan bahwa aksi tersebut didalangi oleh sisa-sisa PKI. Kasus pem- bangunan waduk Kedong Ombo misalnya, para petani dituduh didalangi oleh sisa-sisa PKI. Pada masa Orde Baru juga terdapat indikasi bahwa sisa-sisa anggota PKI mulai mengkonsolidasikan diri.
3.2. Kondisi Sosial dan Politik
Negara yang dikisahkan dalam novel Nyali senantiasa dihadapkan pada konflik sosial dan politik yang berkepanjangan. Konflik termanifestasikan dalam bentuk fragmentasi dalam tubuh militer, perbedaan pendapat tentang bentuk pemerintahan, pertentangan ideologi, kekerasan, sampai menjurus kepada pembrontakan yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan berakibat pada berubahnya sistem sosial dan politik.
"....Baginda tahu sendiri selain Zabaza banyak sekali dendam, sengketa, keinginan membunuh yang ada di seluruh kerajaan...." (halaman 42)
Sejarah Indonesia pada masa Orde Lama juga senantiasa diwarnai oleh konflik sosial dan politik. Pada masa Orde Lama, baik pada masa Demokrasi Liberal maupun Demokrasi Terpimpin, sistem politik dan struktur masyarakatnya belum stabil. Hal ini mengingat kemajemukan masyarakat Indonesia. Kemajemukan masyarakat ini ditandai dengan beraneka suku bangsa, agama, aliran politik, bahasa, adat istiadat, dan lain-lain. Selain itu dalam bidang politik masyarakat terpolarisasi dalam beberapa aliran politik dan ideologi yang kadang saling bertentangan. Demikian juga dengan perbedaan kepentingan di antara kelompok-kelompok masyarakat. Perbedaan kepentingan inilah merupakan penyebab timbulnya konflik. Selain itu upaya dalam memperjuangkan kepentingan yang berbeda merupakan faktor yang memperlebar konflik; perjuangan untuk memperebutkan dan atau mempertahankan sumber daya langka. Demikian halnya dengan sistem distribusi kekuasaan dan perekonomian yang tidak memiliki keseimbangan. R. J. Robinson membuat analisis mengenai distribusi kekuasaan ini dan membandingkan dengan distribusi bidang-bidang ekonomis strategis. Menurut R. J. Robinson:
Distribusi kekuasaan dan kendali ekonomi dapat dilihat dari peranan birokrat politik yang menguasai jabatan-jabatan kuasa dan kendali wibawa dalam partai dan peralatan negara. Ciri penting dari birokrat politik baru ini ialah terjadinya pencampuran (fusi) antara kekuasaan politik dan otoritas birokrasi, artinya, perangkat negara diraih oleh sekelompok kecil pemimpin partai. Wahana yang digunakan untuk meraih kekuasaan negara ini ialah partai-partai politik dan faksi-faksi yang menjamin kendali atas sektor-sektor peralatan negara yang strategis sebagai objek permainan dan pertarungan dan membagi diantara mereka departemen-departemen yang mengawasi jalur perdagangan dan kebijakan ekonomi, bank-bank, dan perusahaan-perusahaan negara. Kedudukan dan jabatan yang secara ekonomis strategis ditempati oleh para pejabat partai dan militer, pendukung politik dan para kerabat, dengan tujuan untuk membiayai operasi politik oleh faksi-faksi yang bersangkutan dan menciptakan basis untuk membangun kemakmuran pribadi para individu pemegang kuasa. Dengan menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dengan cara di atas untuk melangsungkan pembagian lisensi, konsesi, kredit dan kontrak, kaum birokrat politik ini berhasil mengamankan kedudukan-kedudukan monopoli dalam sektor impor sebagai distributor komoditi.an yang ditinjau dari akar sejarah lahirnya borjuasi nasional.
Kondisi seperti tersebut di atas telah menyebabkan timbulnya konflik dalam bidang ekonomi. Dalam kaitan ini Robinson. ibid
menjelaskan:Dalam lapangan ekonomi konflik yang terjadi terlihat dari pertarungan memperebutkan lisensi impor yang dibagikan melalui program banteng, dan dalam konflik tentang kebijaksanan fiskal pemerintah pusat; kebijaksanaan tersebut sangat merugikan para produsen di luar Jawa dan turut menimbulkan pembrontakan daerah melawan pusat pada akhir tahun 1950-an.
Selama dekade pertama, kekuasaan politik berada di tangan koalisi partai-partai politik, suatu koalisi yang sering goyah dan silih berganti. Tidak satu pun dari partai-partai ini yang bersandar atas suatu basis sosial yang kuat dan tangguh. Konflik politik cenderung berbentuk pertarungan memperebutkan jabatan politik.
Pada masa Orde Lama ini konflik politik terjadi baik pada masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Pada masa Demokrasi Liberal diwarnai dengan konflik politik yang tidak jarang menimbulkan bentrokan fisik. Alfian mencatat:
Pada masa Demokrasi Liberal kekuasaan politik boleh dikatakan seluruhnya berada di tangan kaum politisi sipil yang berpusat di parlemen. Dalam badan legislatif itu sendiri duduk politisi-politisi yang mewakili banyak partai politik atau golongan. Kekuasaan kaum politisi sipil dengan multipartai dan parlemennya merupakan ciri khas dari Demokrasi Liberal yang juga sering disebut sebagai Demokrasi Parlementer. Akan tetapi, proses politik yang berkembang di dalam sistem itu diwarnai oleh konflik-konflik politik dan ideologi yang kadang-kadang melahirkan bentrokan fisik atau pembrontakan. Terlalu banyaknya partai politik dan semakin meningkatnya pertentangan pen- dapat atau ideologi telah menjadikan Demokrasi Liberal suatu sistem politik yang tidak stabil, sebagaimana terlihat sering bergantinya kabinet.. Lihat Alfian. 1992. Pemikiran dan Perubahan Politik. Jakarta: Gramedia. Halaman 3-4.
Lebih lanjut Alfian mengatakan bahwa:
Zaman Demokrasi Liberal konflik politik terjadi secara bebas dan praktis tanpa kekangan, sehingga sering memperlihatkan sifat-sifatnya yang negatif. Konflik yang pada awalnya berkadar rendah berupa perbedaan pendapat dengan mudah bergejolak tinggi, mengeras menjadi bentrokan fisik atau pembrontakan.. ibid. Halaman 6.
Pembrontakan atau kudeta pada masa Orde Lama dapat dicatat antara lain pembrontakan Republik Maluku Selatan (RMS), Darul Islam di bawah pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, dan di Aceh di bawah pimpinan Daud Beureueh. Demikian juga dengan bentuk- bentuk pembangkangan daerah terhadap pusat pada tahun 1956. Pada tanggal 20 Desember 1956 Ahmad Husein, Panglima Sumatra Barat mengadakan kudeta dengan mengambil alih pemerintahan propinsi. Pada bulan yang sama juga terjadi gerakan pembangkangan serupa di Sumatra Utara di bawah pimpinan Kolonel Simbolon selaku Panglima di Sumatra Utara. Sedangkan di Sumatra Selatan, Kolonel Barlian memutuskan ketergantungannya pada Jakarta. Pada tanggal 2 Maret 1957, Kolonel Samual, Panglima Indonesia bagian Timur mengumumkan negara dalam keadaan darurat perang di seluruh wilayah komandonya. Tujuan tindakannya adalah menempatkan administrasi sipil pemerintahannya di bawah militer yang pengaruhnya sama dengan kudeta yang dilakukan Kolonel Husein di Sumatra Barat. Di Sulawesi, pengambil- alihan kekuasaan oleh Samual telah disertai dengan suatu pengumuman Piagam Perjuangan Semesta/Permesta.. Lihat John D. Legge. 1985. Sukarno, Sebuah Biografi Politik. Jakarta: Sinar Harapan. Hal. 328-329.
Konflik politik yang tajam juga terjadi dengan munculnya gerakan-gerakan daerah seperti Dewan Gadjah (Sumatra Utara) dan Dewan Banteng (Sumatra Barat) sesudah pemilihan umum 1955. Hal ini disebabkan oleh ketidakpuasan atau ketidakpercayaan terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat. Konflik ini diperparah dengan pertentangan ideologi serta sikap kaku yang diambil oleh sejumlah pimpinan dan politisi, yang selanjutnya membawa krisis politik Indonesia kepada meletusnya prmbrontakan PRRI/Permesta di tahun 1958.. Uraian selanjutnya lihat Alfian. op cit. Halaman 36.
Selain pembrontakan juga sering terjadi penyelundupan sebagai akibat dari konflik ekonomi yang mempunyai ten- densi politik. Penyelundupan tersebut antara lain terjadi di Sulawesi Utara yang didukung oleh tentara. Letkol Worang dan Andi Mattalata melakukan penyelundupan berdasarkan perintah Kolonel J. F. Warrouw dan Kolonel Simbolon. Rekor penyelundupan terbesar terjadi pada bulan Juli 1956 di teluk Nibong yang diprakarsai oleh Kolonel Simbolon. Dan Divisi Diponegoro sejak tahun 1958 melakukan penyelundupan, ekspor-impor berbagai barang, dan per- dagangan gula dan kapuk. Menurut analisis Alfian. Ibid
, penyelundupan tersebut merupakan manifestasi dari perebutan dan persaingan antara daerah dalam kaitannya dengan perekonomian, terutama karena masalah pendapatan devisa luar negeri. Barang-barang ekspor diambil dari pulau-pulau di luar Jawa, sehingga menimbulkan anggapan bahwa Jawa yang padat penduduknya hidup sebagai parasit dari hasil-hasil mereka.
3.3. Kekuatan Politik Dominan
Seperti yang telah diuraikan pada bab tiga, bahwa kekuatan politik yang terlibat dalam konflik ada tiga, yakni Baginda Raja, Gerombolan Zabaza dan Jendral Leonel (tentara kerajaan). Sedangkan dalam sejarah Orde Lama, khususnya pada masa Demokrasi Terpimpin sampai menjelang peristiwa G-30-S/PKI juga terdapat tiga kekuatan politik yang dominan. Ketiga kekuatan tersebut adalah Presiden Soekarno, militer (Angkatan Darat) dan PKI.
3.3.1. Baginda Raja dan Presiden Soekarno
Negara yang dikisahkan oleh novel Nyali dipimpin oleh Baginda Raja sebagai kepala negara. Baginda Raja merupakan salah satu kekuatan politik yang dominan disamping Zabaza dan tentara (Jendral Leonel). Sebagai seorang raja dalam negara yang menganut sistem monarkhi atau otokrasi tradisional, Baginda Raja mempunyai kekuasaan yang besar. Besarnya kekuasaan ini merupakan kesejajaran dengan ke- kuasaan yang dimiliki oleh Presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin.
Kekuasaan Presiden Soekarno terlihat sangat besar ketika ia mencanangkan Demokrasi Terpimpin untuk menggantikan Demokrasi Liberal. Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) dan masa Demokrasi Liberal, kekuasaannya terbatas. Menurut konstitusi (UUD Sementara 1950) penggunaan kekuasaan eksekutif berada di tangan perdana menteri dan kabinet yang tergantung pada dukungan parlemen. Presiden hanya sebagai tokoh lambang. Ia mempunyai kekuasaan terbatas yang menyangkut bidang-bidang tertentu, seperti penunjukkan formatur kabinet yang merupakan hak prerogatifnya, mengeluarkan penyataan negara dalam keadaan bahaya dan pernyataan perang, menerima surat-surat kepercayaan duta besar negara-negara sahabat, dan acara-acara seremonial lainnya. Namun dalam keadaan darurat tidak ada ketentuan yang memperbolehkan presiden membentuk kabinet presi- dentiil.Harapan. Hal. 279
Mengingat dalam Demokrasi Liberal sering terjadi pergantian kabinet dan terlebih lagi sering terjadinya konflik politik antar partai, serta pembrontakan daerah seperti PRRI/Permesta, Presiden Soekarno menghapuskan pemerintahan partai dan memantapkan suatu bentuk kekuasaan yang populis. Selain itu hal ini disebabkan oleh karena ketidakmampuan partai-partai politik, antara lain karena jumlahnya terlalu banyak, sehingga sering terjadi pertentangan dan konflik antar partai dan akibat lebih jauh menghasilkan ketidakstabilan politik sebagaimana tergambar dalam pergantian kabinet yang sering terjadi di permulaan tahun 1950-an. Keinginan Soekarno memainkan peranan yang lebih besar dan berarti dalam politik daripada hanya sekedar lambang sebagaimana ditentukan oleh UUDS 1950 juga menjadi faktor penyebab. Faktor lainnya adalah keinginan tokoh-tokoh militer untuk ikut mempunyai peranan pula dalam politik, antara lain karena semakin menurunnya kepercayaan mereka pada pemimpin-pemimpin partai atau politisi sipil dalam menjalankan roda pemerintahan.
Bentuk kekuasaan baru ini dinamakan dengan Demokrasi Terpimpin. Walaupun Demokrasi Terpimpin sifatnya populis (merakyat) dalam artian bahwa kebijakan dan retorikanya diperuntukkan bagi tujuan memikat massa dipandang perlu demi legitimasi negara, namun negara ini juga bersifat otoriter. Lembaga-lembaga pemerintahan, kebinet, partai politik dan parlemen yang terpilih melalui pemilu digantikan oleh otoritas kepresidenan dan parlemen yang diangkat. Partisipasi politik disalurkan melalui organisasi- organisasi yang disponsori dan dikendalikan oleh negara, yang mewakili kelompok-kelompok fungsional dalam masyarakat.1983. hal. 13.
Kekuasaan Presiden Soekarno yang sangat besar dan tingkah laku politiknya yang otoriter ini telah mengarah pada sikap politik diktaktor. Hal ini terbukti dari pengangkatan dirinya sebagai presiden seumur hidup yang bertentangan dengan UUD 1945. Demikian juga dengan pembubaran parlemen hasil pemilihan umum tahun 1955 dan digantikan dengan parlemen yang anggotanya ditunjuk sendiri. Kekuasaan presiden seperti ini dapat dikatakan identik dengan kekuasaan seorang raja yang memerintah negara sampai akhir hidupnya.
3.3.2. Zabaza dan Partai Komunis Indonesia
Kesejajaran antara PKI dan gerombolan Zabaza adalah keduanya sama-sama menjadi kekuatan politik dominan dalam sebuah negara, walaupun antara keduanya terdapat perbedaan. PKI dalam sejarah Indonesia (pada masa Orde Lama) masuk dalam sistem (masuk dalam kosepnya Soekarno yakni NASAKOM), bahkan empat orang tokohnya masuk dalam kabinet, sedangkan gerombolan Zabaza menjadi kelompok di luar sistem yang punya tujuan untuk mengubah sistem.
Gerombolan Zabaza memiliki disiplin yang kuat. Anggotanya mempunyai militansi yang tinggi, sehingga keanggotaanya terus bertambah. Pengorganisasiannya sangat rapi. Jaringannya sampai ke desa-desa dan kota, bahkan sampai ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, kalangan cendekiawan dan istana.
"....Kita harus berhenti main kekerasan. Dia sudah mendikte kita untuk bermain menurut rencananya. Kalau lima tahun lagi ini masih terus terjadi, jaringannya di ibu kota di sekitar istana, di gedung parlemen, di universitas dan di kalangan para pedagang akan semakin rapih...." (halaman 21-22)
Jaringan dan keanggotaannya yang cukup besar tersebut menunjukkan bahwa gerombolan Zabaza mendapat dukungan dari kalangan luas. Hal ini juga berarti bahwa ideologi dan cita-citanya diterima oleh para pendukungnya. Kekuatan Zabaza ini juga didukung oleh Baginda Raja. Sesungguhnya antara Baginda Raja dan gerombolan Zabaza tidak bermusuhan. Zabaza sengaja diciptakan oleh Baginda Raja dengan tujuan untuk mempersatukan tentara yang mengalami fragmentasi. Dalam novel Nyali, hal ini terlihat pada ucapan istri Jendral Leonel kepada Janda Kolonel Krosy.
"....Ibu tidak tahu bahwa Zabaza diciptakan sendiri oleh kerajaan, dalam hal ini baginda, untuk mempersatukan seluruh potensi angkatan bersenjata...." (halaman 63).
Sesungguhnya Zabaza sendiri tidak bermaksud menggulingkan Baginda Raja.
"....Gerombolan ini tidak memiliki target merebut pemerintahan. Dia adalah usaha untuk menegakkan moral baru. Semacam revolusi kepribadian yang membuat setiap orang menjadi hambat kerajaan yang baik...." (halaman 65-66)
Selain itu antara PKI dan gerombolan Zabaza dalam novel Nyali dalam beberapa hal memiliki kemiripan ideologis, walaupun tidak diungkapkan secara eksplisit, melainkan melalui simbol-simbol yang bisa diinterpretasikan berdasarkan kerangka politis dan ideologis. Sesungguhnya Zabaza merupakan kelompok ideologi.
"Bangsat! Sudah bertahun-tahun aku tahu, Zabaza bukan orang, tetapi semacam ideologi...." (halaman 22)
Zabaza dan PKI sama-sama memiliki cita-cita mengadakan sebuah revolusi.
Dia adalah usaha untuk menegakkan moral baru. Semacam revolusi kepribadian yang membuat setiap orang menjadi hamba kerajaan yang baik. Ini terjadi karena seka- rang setiap orang sudah terlalu banyak bicara tentang kepentingan-kepentingannya. Dalam kelompok Zabaza tidak ada lagi kepentingan pribadi. Setiap orang merasa dirinya alat....(halaman 66)
Secara sepintas bentuk revolusi yang dicita-citakan oleh Zabaza dan revolusi dalam terminologi Marxis menunjukkan perbedaan. Tetapi jika dikaji lebih seksama, kedua bentuk revolusi tersebut memiliki kemiripan substansial. Revolusi dan perjuangan kelas yang menjadi doktrin komunis adalah sebuah cara menuju terciptanya masyarakat tanpa kelas yang memiliki prinsip setiap orang bekerja menurut kemampuannya dan menerima sesuai dengan kebutuhannya. Menurut ajaran Marxisme, selama dalam masyarakat terdapat kelas-kelas sosialHunt. 1954. Marxism Past and Present. London: Geoffrey Bles. hal. 76-77, 90).
, yakni kelas borjuasi dan kelas proletar, maka selama itu pula terjadi eksploitasi oleh kelas kapitalis terhadap kelas proletar.
Anggota Zabaza sangat patuh terhadap pemimpinnya bahkan bersedia mati untuk kepentingan bersama. Sistem kepemimpinan dalam gerombolan Zabaza bisa diinterpretasikan sebagai sistem kepemimpinan sentralisme demokrasi. Sistem kepemimpinan ini memberikan otoritas yang besar kepada pemimpinnya, tetapi massa anggota juga punya hak untuk memberikan saran melalui prosedur tertentu. Dalam mekanisme sentralisme demokrasi dikenal Kritik Oto Kritik sebagai sebuah mekanisme untuk memperbaiki kesalahan- kesalahan dalam kepemimpinan.
Pada tingkat negara prinsip sentralisme demokrasi termanifestasikan dalam bentuk pemerintahan diktaktor proletariat. Dalam sistem pemerintahan seperti ini, bisa dikatakan bahwa "setiap warga negara menjadi hamba kerajaan yang baik". Artinya setiap orang diwajibkan untuk patuh terhadap kepemimpinan diktaktor proletariat. Kepentingan pribadi harus diselaraskan dengan kepentingan diktaktor proletariat. Dengan kata lain setiap warga negara hanyalah alat bagi kepentingan negara. Bagi para pembangkang akan dituduh sebagai kontra-revolusioner. Hukuman bagi para pembangkang adalah kerja paksa atau pembuangan.
Kesejajaran yang sifatnya ideologis antara Zabaza dan PKI adalah tentang kesetiaan anggota terhadap doktrin perjuangan mereka. Doktrin ini merupakan sarana untuk meningkatkan militansi perjuangan. Anggota gerombolan Zabaza sangat yakin pada kemuliaan tujuan.
untuk kepentingan bersama. Apa saja mereka genjot dengan hati beku dan tertutup. Karena mereka sangat yakin kepada kemuliaan tujuannya. (halaman 7)
"Kolonel, kita menghadapi gerombolan yang mentalnya tergarap oleh keyakinan yang sulit dimengerti." (halaman 15)
Doktrin yang terdapat dalam sosialisme/komunisme juga mengajarkan bahwa cita-cita terwujudnya masyarakat tanpa kelas bukan sebagai utopia seperti yang sering dilontarkan oleh pengkritik sosialisme. Akan tetapi cita-cita yang didasarkan pada sosialisme ilmiah tersebut benar-benar akan terwujud sebagai konsekwensi sejarah perkembangan masyarakat.itu sendiri (Lihat Ruslan Abdulgani. tt. Sosialisme Indonesia. Jakarta: Yayasan Prapantja. halaman 15).
Dalam sejarah masyarakat Indonesia, khususnya Orde Lama, PKI menjadi kekuatan politik dominan. PKI pada masa itu mempunyai peluang besar dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Aliran komunis mempunyai tempat dalam konsepnya Soekarno yakni NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Bertolak dari konsep inilah Soekarno berkeras untuk tetap mempertahankan PKI sebagai salah satu kekuatan revolusi. Pada waktu itu Soekarno yang muncul sebagai kekuatan terpenting memberi angin kepada partai ini, dan bahkan membelanya dalam kesulitan-kesulitan politik. Tersingkirnya Masyumi dan PSI semakin memperbesar pengaruh partai komunis. Demikian juga dengan kemerosotan PNI dan NU. Selain itu pimpinan PKI tidak pernah duduk dalam pemerintahan, maka partai ini relatif bersih dari prasangka- prasangka jelek yang hidup di dalam masyarakat yang di- alamatkan kepada mereka yang berkuasa. Kekuatan PKI ini tidak terlepas dari kemampuan organisasi yang baik, di- tangani oleh aktivis-aktivis dan kader-kader yang militan serta penuh dedikasi. Program-program politiknya cukup menarik bagi massa di pedesaan dan perkotaan, sehingga keanggotaannya semakin bertambahD. Legge. op cit. halaman 429)
. Kekuatan PKI tidak tergantung pada parlemen yang berdasarkan konstitusi. Sesungguhnya partai ini sedang mempersiapkan diri untuk memainkan peranan langsung dalam gelanggang politik dengan dukungan organisasi, besarnya jumlah penyokong dan kontrolnya atas anak organisasi di kalangan buruh, tani, dan pemuda. Pada pemilu 1955 PKI memperoleh 8 juta suara (15,4%); menduduki empat besar dalam pemilu tersebut.
3.3.3. Tentara dan Angkatan Darat
Tentara dalam novel Nyali dan Angakatan Darat dalam realitas sejarah Indonesia pada masa Orde Lama dapat dikatakan memiliki kesejajaran. Keduanya merupakan ke- kuatan politik dominan, walaupun dalam tubuh militer terjadi fragmentasi. Dalam novel Nyali tentara yang dipimpin oleh Jendral Leonel terlibat dalam urusan politik kerajaan. Ia tidak sekedar berfungsi sebagai pengawal negara, tetapi punya maksud untuk mengadakan perubahan pada sistem pemerintahan.
"....Karena angkatan perang kerajaan ini benar-benar ampuh dan siap menumpahkan darah. Mereka setia kepada kerajaan sampai titik darah yang penghabisan....Ada alasan kenapa tiba-tiba moral tentara kerajaan sedang berada di puncaknya sekarang. Karena ada Zabaza. Zabaza telah berjasa mengembalikan semangat kepada mereka dengan cara paksa...." (halaman 43)
Militer terutama Angkatan Darat dalam sejarah Indonesia pada masa Orde Lama merupakan kekuatan politik yang cukup dominan. Sejak masa revolusi fisik (1945-1950) militer (TNI) terlibat aktif dalam perjuangan dan dalam masalah politik. Militer tidak pernah membatasi dirinya hanya sebagai kekuatan militer saja, akan tetapi juga melibatkan diri dalam menentukan kebijakan dan strategi politik. Bahkan ketika pemerintah mempunyai peluang yang besar untuk ikut dalam kebijaksanaan pemerintahan. Dalam kaitan ini John D. Legge. John D. Legge. op cit. halaman 342.
membuat analisis bahwa:
Diumumkannya Pernyataan Negara Dalam Keadaan Bahaya pada bulan Maret 1957 telah memberikan kepada Angkatan Darat peranan resmi dalam pemerintahan, meskipun secara teoritis kekuasaan dijalankan di bawah ke- kuasaan Sukarno sebagai panglima tertinggi. Pengumum- an negara dalam keadaan bahaya telah memberi peluang bagi tujuan-tujuan politik Angkatan Darat. Selain itu tentara banyak mendapatkan tanggung jawab dalam pekerjaan rutin di pemerintahan.
Dengan demikian militer mulai ikut secara terbuka dalam politik praktis yang pada gilirannya berhasil mendominasi panggung politik Indonesia.halaman 30.
Ketiga kekuatan politik dominan ini terlibat dalam konflik politik dan mencapai puncaknya pada peristiwa G-30-S/PKI. Antara Presiden Soekarno dan militer sering berhadapan dalam hubungan konflik. Munculnya militer sebagai kekuatan politik yang cukup dominan dirasakan oleh Soekarno sebagai ancaman, walau kedua belah pihak saling membutuhkan. Tentara membutuhkan hak kekuasaan presiden yang dapat memberikan kepada tentara peranan politik dan presiden membutuhkan dukungan tentara dalam melaksanakan kebijakan politiknya. Kekuatiran Soekarno terhadap militer mempunyai alasan yang kuat. Pengalaman-pengalaman sejarah terdahulu telah menjadi pelajaran untuk waspada terhadap
militer. Pada masa sebelum Demokrasi Terpimpin, militer sering terlibat dalam gerakan pembangkangan dan kudeta seperti yang telah penulis uraikan di atas. Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah bukti dari konflik antara militer dan Soekarno. Peristiwa tersebut merupakan kudeta yang dilakukan oleh militer (Angkatan Darat). Militer mengepung
istana dengan persenjataan berat. Militer menuntut pembubaran parlemen dan menuntut untuk segera diadakan pemilu.
Presiden Soekarno tidak bersedia membubarkan parlemen, tapi ia menjanjikan akan segera mengadakan pemilu. Akibat dari peristiwa ini A. H. Nasution diberhentikan dari jabatannya sebagai Kasad pada bulan Desember 1952. Akibat lebih jauh adalah terjadinya gerakan "anti 17 Oktober" di sejumlah komando-komando daerah yang menyerukan penghu- kuman terhadap mereka yang bertanggung jawab pada peristiwa tersebut dan pemecatan para panglima di Jawa Timur, Sulawesi dan Sumatra Selatan.terhadap komando-komando di daerah.
Sementara itu militer menaruh curiga terhadap Sukarno karena kedekatan Sukarno dengan PKI. Sukarno memberikan
peluang bagi PKI untuk turut dalam pemerintahan. Bukti- bukti lain dari dukungan Sukarno kepada PKI adalah dalam masalah kebudayaan (sastra). Sukarno cenderung mendukung Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan PKI) dan melarang gerakan Manikebu (Manifes Kebudayaan) yang anti-komunis. Dalam kaitannya dengan landreform Sukarno juga memberikan dukungan kepada PKI. Dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1964, Sukarno seolah-olah mendorong petani melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria (terutama landreform / pembagian tanah).
Di dalam tubuh militer sendiri juga terjadi fragmentasi yang tajam. Hal ini terlihat dari pembrontakan-pembrontakan atau pun kudeta yang dilakukan oleh panglima-panglima di daerah. Demikian juga dengan kasus Zulkifli Lubis yakni peristiwa penangkapan terhadap Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani dan disusul dengan percobaan kudeta. Pada tanggal 13 Agustus 1956 atas perintah Kolonel A.E. Kawilarang dan dengan sepengetahuan Zulkifli Lubis sebagai Wakil Kepala Staf, menangkap Roeslan Abdulgani yang pada saat itu hendak pergi ke London. Namun kemudian Roeslan Abdulgani dibebaskan oleh Nasution. Beberapa waktu kemudian Kolonel Zulkfli Lubis yang telah diberhentikan dari jabatannya setelah peristiwa penangkapan tersebut mencoba mendatangkan pasukan ke Jakarta untuk mengadakan kudeta. Namun rencana ini dengan mudah dicegah oleh perwira-perwira yang setia kepada Nasution.
Militer dan PKI juga terjadi pertentangan dan persaingan. Ideologi militer adalah anti-komunis. Karena itu dengan segala cara militer berusaha untuk menghalangi pertumbuhan PKI, termasuk menghalangi PKI masuk dalam kabinet. Persaingan semakin keras ketika PKI tumbuh menjadi partai politik yang mempunyai pengaruh dan massa yang cukup besar pada masa Demokrasi Terpimpin. Apalagi meng- ingat Presiden Soekarno memberi dukungan kepada partai ini untuk menjalankan program-program politiknya dan berusaha melibatkan dalam pemerintahan. Sikap anti-komunis dari militer ini terlihat dari usaha militer menghalangi orang- orang PKI masuk kabinet atau pemerintahan. Pada akhir tahun 1964 militer turut mesponsori gerakan anti-komunis. Pada waktu itu didirikan sebuah organisasi baru bernama Badan Pendukung Sukarno (BPS) dengan tujuan mengerahkan perasaan anti-komunis. Namun kemudian Sukarno melarang gerakan itu dengan alasan bahwa gerakan tersebut bersifat memecah belah.John D. Legge. ibid. hal 430.
3.4. Konflik dan Perubahan Sosial Politik
Kesejajaran antara novel Nyali dengan sejarah Indonesia sekitar tahun 1965 juga terlihat pada konflik dan perubahan sosial politik. Sebagaimana yang telah penulis bahas pada bab sebelumnya bahwa konflik yang terjadi di sebuah negara dalam novel Nyali telah membawa perubahan sosial politik yang sangat besar. Demikian halnya dengan konflik yang terjadi dalam sejarah Indonesia.
Puncak dari konflik adalah meletusnya peristiwa G-30- S/PKI. Dalam peristiwa itu terdapat tiga kekuatan yang terlibat dalam konflik. Yang pertama adalah Presiden Sukarno, PKI, dan militer. Tetapi dalam tubuh militer sendiri ada kelompok yang mendukung dan bahkan menjadi pelaku utama dalam kudeta.an antara perwira menengah Divisi Diponegoro dengan pimpinan Angkatan Darat Pusat.
Karena keterlibatan PKI dalam gerakan G-30-S, maka pihak militer (Angkatan Darat) menuduh kepada PKI sebagai pelaku dari peristiwa berdarah tersebut. Tuduhan ini disebarkan secara luas melalui koran-koran milik Angkatan Darat dan koran-koran yang anti-komunis. Akibatnya PKI dilarang dan pimpinan serta anggotanya dibunuh atau di penjaraStudies, Monash University. Halaman 57)
Pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota, simpatisan PKI terjadi di Jawa, Bali dan Sumatra Utara. Pembantaian tersebut membe- rikan militer kekuasaan negara yang ampuh dan keji. Pembantaian itu menyatakan komunisme sebagai biang keladi kekacauan dan huru-hara.57
Peristiwa tersebut mengakibatkan jatuhnya pemerin- tahan lama (Presiden Soekarno), hancurnya PKI, dan keme- nangan militer. Dengan kata lain Presiden Sukarno dan PKI sebagai pihak yang kalah dalam konflik, sedangkan militer menjadi pemenang dalam konflik tersebut. Kegagalan Gerakan G-30-S dan keberhasilan militer dalam menumpas PKI telah menjadikan militer sebagai satu-satunya kekuatan politik utama pasca kudeta. Selanjutnya terjadi perubahan radikal dalam sistem demokrasi dan kebijakan pembangunan. Demokrasi Terpimpin digantikan dengan Demokrasi Pancasila. Masa ini dinamakan Orde Baru yang menggantikan Orde Lama yang penuh dengan konflik dan kekerasan serta pembrontakan. Demikian pula dengan berubahnya segi kebijakan pembangun- an. Dengan kata lain kelahiran Orde Baru menandai tertib sosial yang baru setelah menempuh kekerasan massal dan tersingkirnya dua kekuatan politik, yakni Sukarno dan PKI. Pergantian tersebut hanya memerlukan waktu yang tidak lama. Langenberg membuat analisis tentang pergantian periode sejarah ini dengan menekankan pada faktor pemban- taian massal sebagai faktor yang menentukan bagi perubahan politik tersebut. Menurut Langenberg ibid. hal 45
:
Citra sejarah Orde Baru dan naiknya Soeharto ke panggung kekuasaan politik adalah kemajuan yang bertahap, pelan tapi pasti. Namun pada kenyataannya, proses politik yang menggantikan "Demokrasi Terpimpin" Orde Lama oleh Orde Baru berlangsung efektif hanya dalam enam bulan semenjak pecahnya peristiwa Gestapu 30 September/1 Oktober 1965. Struktur kekuasaan pokok negara Orde Baru diletakkan antara 1 Oktober sampai pertengahan Maret 1966. Hal ini mungkin karena pembantaian massal akhir 1965 memungkinkan pembersihan semua lawan-lawan politik dan pemulihan tata tertib atas mana hegemoni kemudian dapat di- bangun.
Keabsahan Orde Baru dibangun atas dasar peranannya sebagai pemulih tata tertib. Skala pembunuhan dipakai untuk membentuk citra Orde Lama di pikiran publik sebagai periode kekacauan dan huru-hara. Orde Baru memperalat memori sejarah pembunuhan untuk mengukuhkan keabsahannya sendiri. Pembunuhan itu sendiri tidak ditonjolkan dalam sejarah resmi Orde Baru. Mereka secara pasti tidak menyandarkan diri hanya pada penggantian Orde Lama oleh Orde Baru. Pembalasan dendam dianggap sebagai tindakan spontan oleh rakyat melawan komunis yang pengkhianat. Ini berarti mengkambinghitamkan PKI dan sekutu politiknya sebagai bertanggungjawab atas kekerasan massa; dan kekacauan Orde Lama dan bukan permulaan Orde Baru.. ibid. Halaman 58.
Pada masa Orde Lama dipenuhi dengan konflik politik, sedangkan pada masa Orde Baru konflik bisa dikendalikan dan pembangunan diarahkan kepada pembangunan ekonomi dengan memperhatikan segi industrialisasi. Dengan kata lain puncak dari konflik politik pada tahun 1965 telah membawa Indonesia memasuki era baru. Namun demikian konflik tersebut bukan hilang sama sekali. Pada saat-saat tertentu akan muncul kembali. Terbukti dengan gerakan- gerakan mahasiswa pada tahun 1974, 1978 dan gerakan maha- siswa tahun 90-an. Sementara itu kekuatan-kekuatan yang terdapat pada zaman Orde Lama bukan hilang sama sekali.
NOVEL NYALI DAN REALITAS SOSIAL
Dalam bab ini penulis membahas kaitan antara sastra dan realitas sosial . Seperti yang telah disebutkan pada bab pendahuluan bahwa karya sastra mencerminkan kenyataan sosial. Demikian halnya dengan novel Nyali. Dalam konteks ini penulis membuktikan adanya kesejajaran antara konflik sosial dan politik dalam novel Nyali dengan konflik sosial dan politik pada kurun sejarah tersebut. Namun demikian, sebagai sebuah karya kreatif kesejajaran tersebut bukan sebagai menjiplak realitas sejarah. Karya sastra memilih bahan yang terdapat dalam masyarakat (termasuk realitas sejarah), mengolahnya dengan dipadu oleh imajinasi pengarang, sehingga realitas dalam novel Nyali dengan realitas dalam sejarah masyarakat Indonesia tidak sama persis.
Kesejajaran antara novel Nyali dengan kenyataan sejarah masyarakat Indonesia pada masa Orde Lama dan sekitar kelahiran Orde Baru ditekankan pada konflik sosial dan politik yang terjadi pada kurun waktu sejarah tersebut. Kesejajaran ini bukan berarti sama persis, akan tetapi hanya pada beberapa bagian dari sejarah tersebut mempunyai kesamaan dengan konflik sosial dan politik yang tercermin dalam novel Nyali. Kesejajaran tersebut menyangkut periode sejarah, kondisi sosial dan politik yang mengakibatkan timbulnya konflik, kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam konflik, serta konflik dan perubahan sosial-politik. Kurun waktu sejarah yang relevan dengan permasalahan ini adalah pada masa menjelang dan kurun waktu Demokrasi Terpimpinlagi sebagai ideologi melainkan wujud dari pimpinan yang berupa pribadi seorang pemimpin (Gazali, dkk. 1989:100).
, yakni mulai tahun 1957 sampai dengan 1965, peristiwa G-30-S/PKI dan masa kelahiran Orde Baru.
3.1.. Periode Sejarah
Seperti yang telah penulis bahas pada bab sebelumnya bahwa negara yang dikisahkan dalam novel Nyali memiliki dua periode sejarah, yakni pada masa monarkhi dan masa republik. Pada masa monarkhi (Orde Lama)sejarah.
negara (kerajaan) senantiasa diwarnai oleh konflik sosial dan politik yang tajam yang mencapai puncaknya pada peristiwa pem- brontakan atau kudeta. Kudeta dan pembersihan terhadap gerombolan yang dianggap bertanggungjawab terhadap tin- dakan itu serta tampilnya tentara (Jendral Leonel) telah mengantarkan negara itu kepada zaman baru, yakni masa republik (Orde Baru). Pada masa Orde Baru muncul konflik politik yang termanifestasi dalam bentuk demonstrasi- demonstrasi yang menggugat kebijakan pemerintahan Jendral Leonel dan menuntut rekonstruksi peristiwa berdarah pada masa lalu. Demonstrasi-demonstrasi ini diduga didalangi oleh Zabaza baru. Dalam situasi yang penuh konflik, sisa- sisa gerombolan Zabaza mengkonsolidasikan diri dan memulai aktivitasnya seperti pasa masa Orde Lama (masa kerajaan).
Hal ini mempunyai kesejajaran dengan periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, yakni Orde Lama dan Orde Baru. Pada masa Orde Lama, Indonesia terus menerus dihadapkan pada konflik sosial dan politik yang mencapai puncaknya pada tahun 1965 dengan meletusnya Gestapu atau G-30-S/PKI. Kudeta dan tampilnya militer (Angkatan Darat) yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto dalam menumpas pim- pinan, kader-kader, dan anggota PKI beserta organisasi- organisasi yang berafiliasi dengannya telah mengantarkan Indonesia memasuki masa baru yang dinamakan Orde Baru. Pada masa Orde Baru ini muncul konflik baru yang termanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes beberapa kebijakan pemerintahan Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuhan, pendekatan keamanan, dan hak azasi manusia. Dalam beberapa kasus, ketika muncul aksi protes, pemerintah sering melontarkan tuduhan bahwa aksi tersebut didalangi oleh sisa-sisa PKI. Kasus pem- bangunan waduk Kedong Ombo misalnya, para petani dituduh didalangi oleh sisa-sisa PKI. Pada masa Orde Baru juga terdapat indikasi bahwa sisa-sisa anggota PKI mulai mengkonsolidasikan diri.
3.2. Kondisi Sosial dan Politik
Negara yang dikisahkan dalam novel Nyali senantiasa dihadapkan pada konflik sosial dan politik yang berkepanjangan. Konflik termanifestasikan dalam bentuk fragmentasi dalam tubuh militer, perbedaan pendapat tentang bentuk pemerintahan, pertentangan ideologi, kekerasan, sampai menjurus kepada pembrontakan yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan berakibat pada berubahnya sistem sosial dan politik.
"....Baginda tahu sendiri selain Zabaza banyak sekali dendam, sengketa, keinginan membunuh yang ada di seluruh kerajaan...." (halaman 42)
Sejarah Indonesia pada masa Orde Lama juga senantiasa diwarnai oleh konflik sosial dan politik. Pada masa Orde Lama, baik pada masa Demokrasi Liberal maupun Demokrasi Terpimpin, sistem politik dan struktur masyarakatnya belum stabil. Hal ini mengingat kemajemukan masyarakat Indonesia. Kemajemukan masyarakat ini ditandai dengan beraneka suku bangsa, agama, aliran politik, bahasa, adat istiadat, dan lain-lain. Selain itu dalam bidang politik masyarakat terpolarisasi dalam beberapa aliran politik dan ideologi yang kadang saling bertentangan. Demikian juga dengan perbedaan kepentingan di antara kelompok-kelompok masyarakat. Perbedaan kepentingan inilah merupakan penyebab timbulnya konflik. Selain itu upaya dalam memperjuangkan kepentingan yang berbeda merupakan faktor yang memperlebar konflik; perjuangan untuk memperebutkan dan atau mempertahankan sumber daya langka. Demikian halnya dengan sistem distribusi kekuasaan dan perekonomian yang tidak memiliki keseimbangan. R. J. Robinson membuat analisis mengenai distribusi kekuasaan ini dan membandingkan dengan distribusi bidang-bidang ekonomis strategis. Menurut R. J. Robinson:
Distribusi kekuasaan dan kendali ekonomi dapat dilihat dari peranan birokrat politik yang menguasai jabatan-jabatan kuasa dan kendali wibawa dalam partai dan peralatan negara. Ciri penting dari birokrat politik baru ini ialah terjadinya pencampuran (fusi) antara kekuasaan politik dan otoritas birokrasi, artinya, perangkat negara diraih oleh sekelompok kecil pemimpin partai. Wahana yang digunakan untuk meraih kekuasaan negara ini ialah partai-partai politik dan faksi-faksi yang menjamin kendali atas sektor-sektor peralatan negara yang strategis sebagai objek permainan dan pertarungan dan membagi diantara mereka departemen-departemen yang mengawasi jalur perdagangan dan kebijakan ekonomi, bank-bank, dan perusahaan-perusahaan negara. Kedudukan dan jabatan yang secara ekonomis strategis ditempati oleh para pejabat partai dan militer, pendukung politik dan para kerabat, dengan tujuan untuk membiayai operasi politik oleh faksi-faksi yang bersangkutan dan menciptakan basis untuk membangun kemakmuran pribadi para individu pemegang kuasa. Dengan menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dengan cara di atas untuk melangsungkan pembagian lisensi, konsesi, kredit dan kontrak, kaum birokrat politik ini berhasil mengamankan kedudukan-kedudukan monopoli dalam sektor impor sebagai distributor komoditi.an yang ditinjau dari akar sejarah lahirnya borjuasi nasional.
Kondisi seperti tersebut di atas telah menyebabkan timbulnya konflik dalam bidang ekonomi. Dalam kaitan ini Robinson. ibid
menjelaskan:Dalam lapangan ekonomi konflik yang terjadi terlihat dari pertarungan memperebutkan lisensi impor yang dibagikan melalui program banteng, dan dalam konflik tentang kebijaksanan fiskal pemerintah pusat; kebijaksanaan tersebut sangat merugikan para produsen di luar Jawa dan turut menimbulkan pembrontakan daerah melawan pusat pada akhir tahun 1950-an.
Selama dekade pertama, kekuasaan politik berada di tangan koalisi partai-partai politik, suatu koalisi yang sering goyah dan silih berganti. Tidak satu pun dari partai-partai ini yang bersandar atas suatu basis sosial yang kuat dan tangguh. Konflik politik cenderung berbentuk pertarungan memperebutkan jabatan politik.
Pada masa Orde Lama ini konflik politik terjadi baik pada masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Pada masa Demokrasi Liberal diwarnai dengan konflik politik yang tidak jarang menimbulkan bentrokan fisik. Alfian mencatat:
Pada masa Demokrasi Liberal kekuasaan politik boleh dikatakan seluruhnya berada di tangan kaum politisi sipil yang berpusat di parlemen. Dalam badan legislatif itu sendiri duduk politisi-politisi yang mewakili banyak partai politik atau golongan. Kekuasaan kaum politisi sipil dengan multipartai dan parlemennya merupakan ciri khas dari Demokrasi Liberal yang juga sering disebut sebagai Demokrasi Parlementer. Akan tetapi, proses politik yang berkembang di dalam sistem itu diwarnai oleh konflik-konflik politik dan ideologi yang kadang-kadang melahirkan bentrokan fisik atau pembrontakan. Terlalu banyaknya partai politik dan semakin meningkatnya pertentangan pen- dapat atau ideologi telah menjadikan Demokrasi Liberal suatu sistem politik yang tidak stabil, sebagaimana terlihat sering bergantinya kabinet.. Lihat Alfian. 1992. Pemikiran dan Perubahan Politik. Jakarta: Gramedia. Halaman 3-4.
Lebih lanjut Alfian mengatakan bahwa:
Zaman Demokrasi Liberal konflik politik terjadi secara bebas dan praktis tanpa kekangan, sehingga sering memperlihatkan sifat-sifatnya yang negatif. Konflik yang pada awalnya berkadar rendah berupa perbedaan pendapat dengan mudah bergejolak tinggi, mengeras menjadi bentrokan fisik atau pembrontakan.. ibid. Halaman 6.
Pembrontakan atau kudeta pada masa Orde Lama dapat dicatat antara lain pembrontakan Republik Maluku Selatan (RMS), Darul Islam di bawah pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, dan di Aceh di bawah pimpinan Daud Beureueh. Demikian juga dengan bentuk- bentuk pembangkangan daerah terhadap pusat pada tahun 1956. Pada tanggal 20 Desember 1956 Ahmad Husein, Panglima Sumatra Barat mengadakan kudeta dengan mengambil alih pemerintahan propinsi. Pada bulan yang sama juga terjadi gerakan pembangkangan serupa di Sumatra Utara di bawah pimpinan Kolonel Simbolon selaku Panglima di Sumatra Utara. Sedangkan di Sumatra Selatan, Kolonel Barlian memutuskan ketergantungannya pada Jakarta. Pada tanggal 2 Maret 1957, Kolonel Samual, Panglima Indonesia bagian Timur mengumumkan negara dalam keadaan darurat perang di seluruh wilayah komandonya. Tujuan tindakannya adalah menempatkan administrasi sipil pemerintahannya di bawah militer yang pengaruhnya sama dengan kudeta yang dilakukan Kolonel Husein di Sumatra Barat. Di Sulawesi, pengambil- alihan kekuasaan oleh Samual telah disertai dengan suatu pengumuman Piagam Perjuangan Semesta/Permesta.. Lihat John D. Legge. 1985. Sukarno, Sebuah Biografi Politik. Jakarta: Sinar Harapan. Hal. 328-329.
Konflik politik yang tajam juga terjadi dengan munculnya gerakan-gerakan daerah seperti Dewan Gadjah (Sumatra Utara) dan Dewan Banteng (Sumatra Barat) sesudah pemilihan umum 1955. Hal ini disebabkan oleh ketidakpuasan atau ketidakpercayaan terhadap kebijaksanaan pemerintah pusat. Konflik ini diperparah dengan pertentangan ideologi serta sikap kaku yang diambil oleh sejumlah pimpinan dan politisi, yang selanjutnya membawa krisis politik Indonesia kepada meletusnya prmbrontakan PRRI/Permesta di tahun 1958.. Uraian selanjutnya lihat Alfian. op cit. Halaman 36.
Selain pembrontakan juga sering terjadi penyelundupan sebagai akibat dari konflik ekonomi yang mempunyai ten- densi politik. Penyelundupan tersebut antara lain terjadi di Sulawesi Utara yang didukung oleh tentara. Letkol Worang dan Andi Mattalata melakukan penyelundupan berdasarkan perintah Kolonel J. F. Warrouw dan Kolonel Simbolon. Rekor penyelundupan terbesar terjadi pada bulan Juli 1956 di teluk Nibong yang diprakarsai oleh Kolonel Simbolon. Dan Divisi Diponegoro sejak tahun 1958 melakukan penyelundupan, ekspor-impor berbagai barang, dan per- dagangan gula dan kapuk. Menurut analisis Alfian. Ibid
, penyelundupan tersebut merupakan manifestasi dari perebutan dan persaingan antara daerah dalam kaitannya dengan perekonomian, terutama karena masalah pendapatan devisa luar negeri. Barang-barang ekspor diambil dari pulau-pulau di luar Jawa, sehingga menimbulkan anggapan bahwa Jawa yang padat penduduknya hidup sebagai parasit dari hasil-hasil mereka.
3.3. Kekuatan Politik Dominan
Seperti yang telah diuraikan pada bab tiga, bahwa kekuatan politik yang terlibat dalam konflik ada tiga, yakni Baginda Raja, Gerombolan Zabaza dan Jendral Leonel (tentara kerajaan). Sedangkan dalam sejarah Orde Lama, khususnya pada masa Demokrasi Terpimpin sampai menjelang peristiwa G-30-S/PKI juga terdapat tiga kekuatan politik yang dominan. Ketiga kekuatan tersebut adalah Presiden Soekarno, militer (Angkatan Darat) dan PKI.
3.3.1. Baginda Raja dan Presiden Soekarno
Negara yang dikisahkan oleh novel Nyali dipimpin oleh Baginda Raja sebagai kepala negara. Baginda Raja merupakan salah satu kekuatan politik yang dominan disamping Zabaza dan tentara (Jendral Leonel). Sebagai seorang raja dalam negara yang menganut sistem monarkhi atau otokrasi tradisional, Baginda Raja mempunyai kekuasaan yang besar. Besarnya kekuasaan ini merupakan kesejajaran dengan ke- kuasaan yang dimiliki oleh Presiden Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin.
Kekuasaan Presiden Soekarno terlihat sangat besar ketika ia mencanangkan Demokrasi Terpimpin untuk menggantikan Demokrasi Liberal. Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) dan masa Demokrasi Liberal, kekuasaannya terbatas. Menurut konstitusi (UUD Sementara 1950) penggunaan kekuasaan eksekutif berada di tangan perdana menteri dan kabinet yang tergantung pada dukungan parlemen. Presiden hanya sebagai tokoh lambang. Ia mempunyai kekuasaan terbatas yang menyangkut bidang-bidang tertentu, seperti penunjukkan formatur kabinet yang merupakan hak prerogatifnya, mengeluarkan penyataan negara dalam keadaan bahaya dan pernyataan perang, menerima surat-surat kepercayaan duta besar negara-negara sahabat, dan acara-acara seremonial lainnya. Namun dalam keadaan darurat tidak ada ketentuan yang memperbolehkan presiden membentuk kabinet presi- dentiil.Harapan. Hal. 279
Mengingat dalam Demokrasi Liberal sering terjadi pergantian kabinet dan terlebih lagi sering terjadinya konflik politik antar partai, serta pembrontakan daerah seperti PRRI/Permesta, Presiden Soekarno menghapuskan pemerintahan partai dan memantapkan suatu bentuk kekuasaan yang populis. Selain itu hal ini disebabkan oleh karena ketidakmampuan partai-partai politik, antara lain karena jumlahnya terlalu banyak, sehingga sering terjadi pertentangan dan konflik antar partai dan akibat lebih jauh menghasilkan ketidakstabilan politik sebagaimana tergambar dalam pergantian kabinet yang sering terjadi di permulaan tahun 1950-an. Keinginan Soekarno memainkan peranan yang lebih besar dan berarti dalam politik daripada hanya sekedar lambang sebagaimana ditentukan oleh UUDS 1950 juga menjadi faktor penyebab. Faktor lainnya adalah keinginan tokoh-tokoh militer untuk ikut mempunyai peranan pula dalam politik, antara lain karena semakin menurunnya kepercayaan mereka pada pemimpin-pemimpin partai atau politisi sipil dalam menjalankan roda pemerintahan.
Bentuk kekuasaan baru ini dinamakan dengan Demokrasi Terpimpin. Walaupun Demokrasi Terpimpin sifatnya populis (merakyat) dalam artian bahwa kebijakan dan retorikanya diperuntukkan bagi tujuan memikat massa dipandang perlu demi legitimasi negara, namun negara ini juga bersifat otoriter. Lembaga-lembaga pemerintahan, kebinet, partai politik dan parlemen yang terpilih melalui pemilu digantikan oleh otoritas kepresidenan dan parlemen yang diangkat. Partisipasi politik disalurkan melalui organisasi- organisasi yang disponsori dan dikendalikan oleh negara, yang mewakili kelompok-kelompok fungsional dalam masyarakat.1983. hal. 13.
Kekuasaan Presiden Soekarno yang sangat besar dan tingkah laku politiknya yang otoriter ini telah mengarah pada sikap politik diktaktor. Hal ini terbukti dari pengangkatan dirinya sebagai presiden seumur hidup yang bertentangan dengan UUD 1945. Demikian juga dengan pembubaran parlemen hasil pemilihan umum tahun 1955 dan digantikan dengan parlemen yang anggotanya ditunjuk sendiri. Kekuasaan presiden seperti ini dapat dikatakan identik dengan kekuasaan seorang raja yang memerintah negara sampai akhir hidupnya.
3.3.2. Zabaza dan Partai Komunis Indonesia
Kesejajaran antara PKI dan gerombolan Zabaza adalah keduanya sama-sama menjadi kekuatan politik dominan dalam sebuah negara, walaupun antara keduanya terdapat perbedaan. PKI dalam sejarah Indonesia (pada masa Orde Lama) masuk dalam sistem (masuk dalam kosepnya Soekarno yakni NASAKOM), bahkan empat orang tokohnya masuk dalam kabinet, sedangkan gerombolan Zabaza menjadi kelompok di luar sistem yang punya tujuan untuk mengubah sistem.
Gerombolan Zabaza memiliki disiplin yang kuat. Anggotanya mempunyai militansi yang tinggi, sehingga keanggotaanya terus bertambah. Pengorganisasiannya sangat rapi. Jaringannya sampai ke desa-desa dan kota, bahkan sampai ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, kalangan cendekiawan dan istana.
"....Kita harus berhenti main kekerasan. Dia sudah mendikte kita untuk bermain menurut rencananya. Kalau lima tahun lagi ini masih terus terjadi, jaringannya di ibu kota di sekitar istana, di gedung parlemen, di universitas dan di kalangan para pedagang akan semakin rapih...." (halaman 21-22)
Jaringan dan keanggotaannya yang cukup besar tersebut menunjukkan bahwa gerombolan Zabaza mendapat dukungan dari kalangan luas. Hal ini juga berarti bahwa ideologi dan cita-citanya diterima oleh para pendukungnya. Kekuatan Zabaza ini juga didukung oleh Baginda Raja. Sesungguhnya antara Baginda Raja dan gerombolan Zabaza tidak bermusuhan. Zabaza sengaja diciptakan oleh Baginda Raja dengan tujuan untuk mempersatukan tentara yang mengalami fragmentasi. Dalam novel Nyali, hal ini terlihat pada ucapan istri Jendral Leonel kepada Janda Kolonel Krosy.
"....Ibu tidak tahu bahwa Zabaza diciptakan sendiri oleh kerajaan, dalam hal ini baginda, untuk mempersatukan seluruh potensi angkatan bersenjata...." (halaman 63).
Sesungguhnya Zabaza sendiri tidak bermaksud menggulingkan Baginda Raja.
"....Gerombolan ini tidak memiliki target merebut pemerintahan. Dia adalah usaha untuk menegakkan moral baru. Semacam revolusi kepribadian yang membuat setiap orang menjadi hambat kerajaan yang baik...." (halaman 65-66)
Selain itu antara PKI dan gerombolan Zabaza dalam novel Nyali dalam beberapa hal memiliki kemiripan ideologis, walaupun tidak diungkapkan secara eksplisit, melainkan melalui simbol-simbol yang bisa diinterpretasikan berdasarkan kerangka politis dan ideologis. Sesungguhnya Zabaza merupakan kelompok ideologi.
"Bangsat! Sudah bertahun-tahun aku tahu, Zabaza bukan orang, tetapi semacam ideologi...." (halaman 22)
Zabaza dan PKI sama-sama memiliki cita-cita mengadakan sebuah revolusi.
Dia adalah usaha untuk menegakkan moral baru. Semacam revolusi kepribadian yang membuat setiap orang menjadi hamba kerajaan yang baik. Ini terjadi karena seka- rang setiap orang sudah terlalu banyak bicara tentang kepentingan-kepentingannya. Dalam kelompok Zabaza tidak ada lagi kepentingan pribadi. Setiap orang merasa dirinya alat....(halaman 66)
Secara sepintas bentuk revolusi yang dicita-citakan oleh Zabaza dan revolusi dalam terminologi Marxis menunjukkan perbedaan. Tetapi jika dikaji lebih seksama, kedua bentuk revolusi tersebut memiliki kemiripan substansial. Revolusi dan perjuangan kelas yang menjadi doktrin komunis adalah sebuah cara menuju terciptanya masyarakat tanpa kelas yang memiliki prinsip setiap orang bekerja menurut kemampuannya dan menerima sesuai dengan kebutuhannya. Menurut ajaran Marxisme, selama dalam masyarakat terdapat kelas-kelas sosialHunt. 1954. Marxism Past and Present. London: Geoffrey Bles. hal. 76-77, 90).
, yakni kelas borjuasi dan kelas proletar, maka selama itu pula terjadi eksploitasi oleh kelas kapitalis terhadap kelas proletar.
Anggota Zabaza sangat patuh terhadap pemimpinnya bahkan bersedia mati untuk kepentingan bersama. Sistem kepemimpinan dalam gerombolan Zabaza bisa diinterpretasikan sebagai sistem kepemimpinan sentralisme demokrasi. Sistem kepemimpinan ini memberikan otoritas yang besar kepada pemimpinnya, tetapi massa anggota juga punya hak untuk memberikan saran melalui prosedur tertentu. Dalam mekanisme sentralisme demokrasi dikenal Kritik Oto Kritik sebagai sebuah mekanisme untuk memperbaiki kesalahan- kesalahan dalam kepemimpinan.
Pada tingkat negara prinsip sentralisme demokrasi termanifestasikan dalam bentuk pemerintahan diktaktor proletariat. Dalam sistem pemerintahan seperti ini, bisa dikatakan bahwa "setiap warga negara menjadi hamba kerajaan yang baik". Artinya setiap orang diwajibkan untuk patuh terhadap kepemimpinan diktaktor proletariat. Kepentingan pribadi harus diselaraskan dengan kepentingan diktaktor proletariat. Dengan kata lain setiap warga negara hanyalah alat bagi kepentingan negara. Bagi para pembangkang akan dituduh sebagai kontra-revolusioner. Hukuman bagi para pembangkang adalah kerja paksa atau pembuangan.
Kesejajaran yang sifatnya ideologis antara Zabaza dan PKI adalah tentang kesetiaan anggota terhadap doktrin perjuangan mereka. Doktrin ini merupakan sarana untuk meningkatkan militansi perjuangan. Anggota gerombolan Zabaza sangat yakin pada kemuliaan tujuan.
untuk kepentingan bersama. Apa saja mereka genjot dengan hati beku dan tertutup. Karena mereka sangat yakin kepada kemuliaan tujuannya. (halaman 7)
"Kolonel, kita menghadapi gerombolan yang mentalnya tergarap oleh keyakinan yang sulit dimengerti." (halaman 15)
Doktrin yang terdapat dalam sosialisme/komunisme juga mengajarkan bahwa cita-cita terwujudnya masyarakat tanpa kelas bukan sebagai utopia seperti yang sering dilontarkan oleh pengkritik sosialisme. Akan tetapi cita-cita yang didasarkan pada sosialisme ilmiah tersebut benar-benar akan terwujud sebagai konsekwensi sejarah perkembangan masyarakat.itu sendiri (Lihat Ruslan Abdulgani. tt. Sosialisme Indonesia. Jakarta: Yayasan Prapantja. halaman 15).
Dalam sejarah masyarakat Indonesia, khususnya Orde Lama, PKI menjadi kekuatan politik dominan. PKI pada masa itu mempunyai peluang besar dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Aliran komunis mempunyai tempat dalam konsepnya Soekarno yakni NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Bertolak dari konsep inilah Soekarno berkeras untuk tetap mempertahankan PKI sebagai salah satu kekuatan revolusi. Pada waktu itu Soekarno yang muncul sebagai kekuatan terpenting memberi angin kepada partai ini, dan bahkan membelanya dalam kesulitan-kesulitan politik. Tersingkirnya Masyumi dan PSI semakin memperbesar pengaruh partai komunis. Demikian juga dengan kemerosotan PNI dan NU. Selain itu pimpinan PKI tidak pernah duduk dalam pemerintahan, maka partai ini relatif bersih dari prasangka- prasangka jelek yang hidup di dalam masyarakat yang di- alamatkan kepada mereka yang berkuasa. Kekuatan PKI ini tidak terlepas dari kemampuan organisasi yang baik, di- tangani oleh aktivis-aktivis dan kader-kader yang militan serta penuh dedikasi. Program-program politiknya cukup menarik bagi massa di pedesaan dan perkotaan, sehingga keanggotaannya semakin bertambahD. Legge. op cit. halaman 429)
. Kekuatan PKI tidak tergantung pada parlemen yang berdasarkan konstitusi. Sesungguhnya partai ini sedang mempersiapkan diri untuk memainkan peranan langsung dalam gelanggang politik dengan dukungan organisasi, besarnya jumlah penyokong dan kontrolnya atas anak organisasi di kalangan buruh, tani, dan pemuda. Pada pemilu 1955 PKI memperoleh 8 juta suara (15,4%); menduduki empat besar dalam pemilu tersebut.
3.3.3. Tentara dan Angkatan Darat
Tentara dalam novel Nyali dan Angakatan Darat dalam realitas sejarah Indonesia pada masa Orde Lama dapat dikatakan memiliki kesejajaran. Keduanya merupakan ke- kuatan politik dominan, walaupun dalam tubuh militer terjadi fragmentasi. Dalam novel Nyali tentara yang dipimpin oleh Jendral Leonel terlibat dalam urusan politik kerajaan. Ia tidak sekedar berfungsi sebagai pengawal negara, tetapi punya maksud untuk mengadakan perubahan pada sistem pemerintahan.
"....Karena angkatan perang kerajaan ini benar-benar ampuh dan siap menumpahkan darah. Mereka setia kepada kerajaan sampai titik darah yang penghabisan....Ada alasan kenapa tiba-tiba moral tentara kerajaan sedang berada di puncaknya sekarang. Karena ada Zabaza. Zabaza telah berjasa mengembalikan semangat kepada mereka dengan cara paksa...." (halaman 43)
Militer terutama Angkatan Darat dalam sejarah Indonesia pada masa Orde Lama merupakan kekuatan politik yang cukup dominan. Sejak masa revolusi fisik (1945-1950) militer (TNI) terlibat aktif dalam perjuangan dan dalam masalah politik. Militer tidak pernah membatasi dirinya hanya sebagai kekuatan militer saja, akan tetapi juga melibatkan diri dalam menentukan kebijakan dan strategi politik. Bahkan ketika pemerintah mempunyai peluang yang besar untuk ikut dalam kebijaksanaan pemerintahan. Dalam kaitan ini John D. Legge. John D. Legge. op cit. halaman 342.
membuat analisis bahwa:
Diumumkannya Pernyataan Negara Dalam Keadaan Bahaya pada bulan Maret 1957 telah memberikan kepada Angkatan Darat peranan resmi dalam pemerintahan, meskipun secara teoritis kekuasaan dijalankan di bawah ke- kuasaan Sukarno sebagai panglima tertinggi. Pengumum- an negara dalam keadaan bahaya telah memberi peluang bagi tujuan-tujuan politik Angkatan Darat. Selain itu tentara banyak mendapatkan tanggung jawab dalam pekerjaan rutin di pemerintahan.
Dengan demikian militer mulai ikut secara terbuka dalam politik praktis yang pada gilirannya berhasil mendominasi panggung politik Indonesia.halaman 30.
Ketiga kekuatan politik dominan ini terlibat dalam konflik politik dan mencapai puncaknya pada peristiwa G-30-S/PKI. Antara Presiden Soekarno dan militer sering berhadapan dalam hubungan konflik. Munculnya militer sebagai kekuatan politik yang cukup dominan dirasakan oleh Soekarno sebagai ancaman, walau kedua belah pihak saling membutuhkan. Tentara membutuhkan hak kekuasaan presiden yang dapat memberikan kepada tentara peranan politik dan presiden membutuhkan dukungan tentara dalam melaksanakan kebijakan politiknya. Kekuatiran Soekarno terhadap militer mempunyai alasan yang kuat. Pengalaman-pengalaman sejarah terdahulu telah menjadi pelajaran untuk waspada terhadap
militer. Pada masa sebelum Demokrasi Terpimpin, militer sering terlibat dalam gerakan pembangkangan dan kudeta seperti yang telah penulis uraikan di atas. Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah bukti dari konflik antara militer dan Soekarno. Peristiwa tersebut merupakan kudeta yang dilakukan oleh militer (Angkatan Darat). Militer mengepung
istana dengan persenjataan berat. Militer menuntut pembubaran parlemen dan menuntut untuk segera diadakan pemilu.
Presiden Soekarno tidak bersedia membubarkan parlemen, tapi ia menjanjikan akan segera mengadakan pemilu. Akibat dari peristiwa ini A. H. Nasution diberhentikan dari jabatannya sebagai Kasad pada bulan Desember 1952. Akibat lebih jauh adalah terjadinya gerakan "anti 17 Oktober" di sejumlah komando-komando daerah yang menyerukan penghu- kuman terhadap mereka yang bertanggung jawab pada peristiwa tersebut dan pemecatan para panglima di Jawa Timur, Sulawesi dan Sumatra Selatan.terhadap komando-komando di daerah.
Sementara itu militer menaruh curiga terhadap Sukarno karena kedekatan Sukarno dengan PKI. Sukarno memberikan
peluang bagi PKI untuk turut dalam pemerintahan. Bukti- bukti lain dari dukungan Sukarno kepada PKI adalah dalam masalah kebudayaan (sastra). Sukarno cenderung mendukung Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan PKI) dan melarang gerakan Manikebu (Manifes Kebudayaan) yang anti-komunis. Dalam kaitannya dengan landreform Sukarno juga memberikan dukungan kepada PKI. Dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1964, Sukarno seolah-olah mendorong petani melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria (terutama landreform / pembagian tanah).
Di dalam tubuh militer sendiri juga terjadi fragmentasi yang tajam. Hal ini terlihat dari pembrontakan-pembrontakan atau pun kudeta yang dilakukan oleh panglima-panglima di daerah. Demikian juga dengan kasus Zulkifli Lubis yakni peristiwa penangkapan terhadap Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani dan disusul dengan percobaan kudeta. Pada tanggal 13 Agustus 1956 atas perintah Kolonel A.E. Kawilarang dan dengan sepengetahuan Zulkifli Lubis sebagai Wakil Kepala Staf, menangkap Roeslan Abdulgani yang pada saat itu hendak pergi ke London. Namun kemudian Roeslan Abdulgani dibebaskan oleh Nasution. Beberapa waktu kemudian Kolonel Zulkfli Lubis yang telah diberhentikan dari jabatannya setelah peristiwa penangkapan tersebut mencoba mendatangkan pasukan ke Jakarta untuk mengadakan kudeta. Namun rencana ini dengan mudah dicegah oleh perwira-perwira yang setia kepada Nasution.
Militer dan PKI juga terjadi pertentangan dan persaingan. Ideologi militer adalah anti-komunis. Karena itu dengan segala cara militer berusaha untuk menghalangi pertumbuhan PKI, termasuk menghalangi PKI masuk dalam kabinet. Persaingan semakin keras ketika PKI tumbuh menjadi partai politik yang mempunyai pengaruh dan massa yang cukup besar pada masa Demokrasi Terpimpin. Apalagi meng- ingat Presiden Soekarno memberi dukungan kepada partai ini untuk menjalankan program-program politiknya dan berusaha melibatkan dalam pemerintahan. Sikap anti-komunis dari militer ini terlihat dari usaha militer menghalangi orang- orang PKI masuk kabinet atau pemerintahan. Pada akhir tahun 1964 militer turut mesponsori gerakan anti-komunis. Pada waktu itu didirikan sebuah organisasi baru bernama Badan Pendukung Sukarno (BPS) dengan tujuan mengerahkan perasaan anti-komunis. Namun kemudian Sukarno melarang gerakan itu dengan alasan bahwa gerakan tersebut bersifat memecah belah.John D. Legge. ibid. hal 430.
3.4. Konflik dan Perubahan Sosial Politik
Kesejajaran antara novel Nyali dengan sejarah Indonesia sekitar tahun 1965 juga terlihat pada konflik dan perubahan sosial politik. Sebagaimana yang telah penulis bahas pada bab sebelumnya bahwa konflik yang terjadi di sebuah negara dalam novel Nyali telah membawa perubahan sosial politik yang sangat besar. Demikian halnya dengan konflik yang terjadi dalam sejarah Indonesia.
Puncak dari konflik adalah meletusnya peristiwa G-30- S/PKI. Dalam peristiwa itu terdapat tiga kekuatan yang terlibat dalam konflik. Yang pertama adalah Presiden Sukarno, PKI, dan militer. Tetapi dalam tubuh militer sendiri ada kelompok yang mendukung dan bahkan menjadi pelaku utama dalam kudeta.an antara perwira menengah Divisi Diponegoro dengan pimpinan Angkatan Darat Pusat.
Karena keterlibatan PKI dalam gerakan G-30-S, maka pihak militer (Angkatan Darat) menuduh kepada PKI sebagai pelaku dari peristiwa berdarah tersebut. Tuduhan ini disebarkan secara luas melalui koran-koran milik Angkatan Darat dan koran-koran yang anti-komunis. Akibatnya PKI dilarang dan pimpinan serta anggotanya dibunuh atau di penjaraStudies, Monash University. Halaman 57)
Pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota, simpatisan PKI terjadi di Jawa, Bali dan Sumatra Utara. Pembantaian tersebut membe- rikan militer kekuasaan negara yang ampuh dan keji. Pembantaian itu menyatakan komunisme sebagai biang keladi kekacauan dan huru-hara.57
Peristiwa tersebut mengakibatkan jatuhnya pemerin- tahan lama (Presiden Soekarno), hancurnya PKI, dan keme- nangan militer. Dengan kata lain Presiden Sukarno dan PKI sebagai pihak yang kalah dalam konflik, sedangkan militer menjadi pemenang dalam konflik tersebut. Kegagalan Gerakan G-30-S dan keberhasilan militer dalam menumpas PKI telah menjadikan militer sebagai satu-satunya kekuatan politik utama pasca kudeta. Selanjutnya terjadi perubahan radikal dalam sistem demokrasi dan kebijakan pembangunan. Demokrasi Terpimpin digantikan dengan Demokrasi Pancasila. Masa ini dinamakan Orde Baru yang menggantikan Orde Lama yang penuh dengan konflik dan kekerasan serta pembrontakan. Demikian pula dengan berubahnya segi kebijakan pembangun- an. Dengan kata lain kelahiran Orde Baru menandai tertib sosial yang baru setelah menempuh kekerasan massal dan tersingkirnya dua kekuatan politik, yakni Sukarno dan PKI. Pergantian tersebut hanya memerlukan waktu yang tidak lama. Langenberg membuat analisis tentang pergantian periode sejarah ini dengan menekankan pada faktor pemban- taian massal sebagai faktor yang menentukan bagi perubahan politik tersebut. Menurut Langenberg ibid. hal 45
:
Citra sejarah Orde Baru dan naiknya Soeharto ke panggung kekuasaan politik adalah kemajuan yang bertahap, pelan tapi pasti. Namun pada kenyataannya, proses politik yang menggantikan "Demokrasi Terpimpin" Orde Lama oleh Orde Baru berlangsung efektif hanya dalam enam bulan semenjak pecahnya peristiwa Gestapu 30 September/1 Oktober 1965. Struktur kekuasaan pokok negara Orde Baru diletakkan antara 1 Oktober sampai pertengahan Maret 1966. Hal ini mungkin karena pembantaian massal akhir 1965 memungkinkan pembersihan semua lawan-lawan politik dan pemulihan tata tertib atas mana hegemoni kemudian dapat di- bangun.
Keabsahan Orde Baru dibangun atas dasar peranannya sebagai pemulih tata tertib. Skala pembunuhan dipakai untuk membentuk citra Orde Lama di pikiran publik sebagai periode kekacauan dan huru-hara. Orde Baru memperalat memori sejarah pembunuhan untuk mengukuhkan keabsahannya sendiri. Pembunuhan itu sendiri tidak ditonjolkan dalam sejarah resmi Orde Baru. Mereka secara pasti tidak menyandarkan diri hanya pada penggantian Orde Lama oleh Orde Baru. Pembalasan dendam dianggap sebagai tindakan spontan oleh rakyat melawan komunis yang pengkhianat. Ini berarti mengkambinghitamkan PKI dan sekutu politiknya sebagai bertanggungjawab atas kekerasan massa; dan kekacauan Orde Lama dan bukan permulaan Orde Baru.. ibid. Halaman 58.
Pada masa Orde Lama dipenuhi dengan konflik politik, sedangkan pada masa Orde Baru konflik bisa dikendalikan dan pembangunan diarahkan kepada pembangunan ekonomi dengan memperhatikan segi industrialisasi. Dengan kata lain puncak dari konflik politik pada tahun 1965 telah membawa Indonesia memasuki era baru. Namun demikian konflik tersebut bukan hilang sama sekali. Pada saat-saat tertentu akan muncul kembali. Terbukti dengan gerakan- gerakan mahasiswa pada tahun 1974, 1978 dan gerakan maha- siswa tahun 90-an. Sementara itu kekuatan-kekuatan yang terdapat pada zaman Orde Lama bukan hilang sama sekali.
Langganan:
Entri (Atom)
